Assalamu Alaikum, Selamat Datang Saudaraku  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?

tvOne bertanya: Bagaimana cara PKS mendidik kader-kadernya agar tidak korupsi?



Selasa (6/3) pukul 10.30 WIB TvOne secara live mewancarai Dr. H. Mardani Ali Sera, M.Eng. anggota DPR RI dari PKS Komisi VII yang juga jubir (juru bicara DPP PKS) seputar Rakornas PKS. Selain tema Rakornas, host TvOne juga menanyakan seputar komitmen dan sistem PKS dalam mencegah kader-kadernya agar tidak korupsi.

Berikut kami kutip hasil transkrip wawancara Live tersebut:

Host:

Tadi PKS menyatakan korupsi adalah bahaya laten, terus bagaimana cara PKS mendidik kader-kadernya agar tidak korupsi?

Mardani:

Kami bersyukur kader PKS tidak ada yang jadi tersangka kasus Korupsi. Kami syukuri itu tapi kami tdk akan jumawa.

Diantara yg kami lakukan, setiap kita punya kewajiban setiap bulan mendeklarasikan penghasilan kita berapa. Kayak saya, saya sekarang mendapat amanah jadi anggota dewan, itu harus terbuka. Gaji anggota dewan dipotong 20 juta untuk kas partai. Sisanya ada infaq, ada zakat 2,5 %, infaq 1% untuk teman-teman yang sakit, jadi total penghasilan itu dipotong 7 % lagi. Itu harus ketahuan. Karena kata Nabi, dosa itu sesuatu yg kamu tdk ingin orang lain ketahui. Kalau kita mulai menutup-nutupi penghasilan berarti kita mulai ada hal yg tdk ingin diketahui org lain, kalau kita ingin ada hal yg ditutupi berarti kita patut dipertanayakan: darimana?

Karena kata nabi, tdk melangkah kaki kita di hari akhir nanti kecuali ditanya lima hal, dan untuk harta itu spesifik, darimana dan kemana. Jadi kita coba dilembagakan di PKS sendiri untuk transparansi keterbukaan, bab penghasilan ini dibuka.

Host:

Dimulai dari kader atau dari tingkat mana?

Mardani:

Semuanya, semua kader, dan tingkat pimpinan mencontohkan.

Host:

Jadi menurut bapak peran agama adl yg paling kuat? (untuk cegah korupsi)

Mardani:

agama dan prinsip-prinsip transparansi keterbukaan kejujuran.


sumber
19.51 | 0 komentar

Berbaurlah, tapi Tetap Bercahaya

Oleh: Farid Nu’man
 
Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إِذَا قَالَ الرَّجُلُ هَلَكَ النَّاسُ فَهُوَ أَهْلَكُهُمْ
 “Jika seseorang berkata ‘Manusia telah rusak’  maka dialah yang lebih rusak dari mereka.” (HR. Muslim No. 2623)

Mukadimah

Seringkali jiwa kita marah, emosi meluap, bahkan pernah memaki, ketika melihat fenomena penyakit masyarakat yang kian hari semakin parah. Angka perzinahan, pergaulan bebas, korupsi di atas dan bawah, perjudian, acara televisi yang minim keteladanan, bid’ah dan kemusyrikan. Ingin rasanya melakukan perubahan cepat dan mengembalikan mereka kepada fitrah (Islam) yang benar. Tapi, sering pula hanya sebatas itu yang kita lakukan; marah, emosi, dan memaki. Tak ada aksi perbaikan, tetapi perdebatan, tak ada doa, tetapi  celaan. Tidak. Masyarakat tidak membutuhkan perdebatan dan celaan, mereka membutuhkan uluran tangan dan doa para mushlihun.

Tahan Lisan Jangan Sok Suci

Hadits di atas mengajarkan kita untuk menahan lisan dari mencela masyarakat dan memandu agar  tidak merasa lebih benar dan suci, baik dari sisi akhlak, pemikiran, ibadah, dan lainnya. Justru sikap itulah yang menunjukkan kekurangan kita; sombong.

Oleh karena itu, Imam An Nawawi menjelaskan:  

وَاتَّفَقَ الْعُلَمَاء عَلَى أَنَّ هَذَا الذَّمّ إِنَّمَا هُوَ فِيمَنْ قَالَهُ عَلَى سَبِيل الْإِزْرَاء عَلَى النَّاس ، وَاحْتِقَارهمْ ، وَتَفْضِيل نَفْسه عَلَيْهِمْ ، وَتَقْبِيح أَحْوَالهمْ ، لِأَنَّهُ لَا يَعْلَم سِرّ اللَّه فِي خَلْقه . ق
 
“Para ulama sepakat bahwa celaan dalam hadits ini adalah bagi orang yang ucapannya itu dimaksudkan untuk mencela manusia, merendahkannya, dan mengutamakan dirinya di atas mereka, dan memburukkan keadaan masyarakat, lantaran dia tidak tahu rahasia Allah Ta’ala atas hambaNya.”

Namun jika ungkapan tersebut karena kesedihan meratapi masyarakat karena faktor agama, maka sebagian ulama membolehkannya.

Beliau melanjutkan:

َالُوا : فَأَمَّا مَنْ قَالَ ذَلِكَ تَحَزُّنًا لِمَا يَرَى فِي نَفْسه وَفِي النَّاس مِنْ النَّقْص فِي أَمْر الدِّين فَلَا بَأْس عَلَيْهِ

“ Mereka mengatakan: Ada pun jika siapa yang mengatakannya karena kesedihan terhadap apa yang dilihatnya pada dirinya dan manusia berupa kekurangan dalam urusan agama, maka hal itu tidak apa-apa.” (Lihat semua dalam Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 8/463. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Sikap sebagian da’i yang senang menyerang kaumnya sendiri, mencela agama dan kepribadian mereka, adalah sikap yang sama sekali tidak memberikan solusi apa pun. Lalu, ia menjauh dari masyarakat  dengan alasan menghindari noda dan fitnah. Memandang manusia sekitarnya dengan pandangan rendah dan perasaan  jijik. Bukan begitu sikap da’i petarung, bukan demikian sikap da’i penyabar.

Allah Ta’ala berfirman:
فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ اتَّقَى

“Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An Najm (53): 32)

Membaurlah, Tetapi …

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mendapatkan gelar Al Amin (terpercaya) dari masyarakatnya sejak  sebelum masa bi’tsah (pengangkatan menjadi Rasul). Gelar itu selalu melekat kepadanya hingga akhir hayatnya; walau di mata musuhnya sendiri. Ketaqwaannya, kesucian akhlaknya, kekhusyu’annya dalam beribadah, sama sekali bukan penghalang untuk membaur dengan masyarakatnya. Tentunya gelar ini didapatkan melalui interaksi, bergaul, dan menyelami kehidupan masyarakatnya dan berempati dengan permasalahan mereka.  Selain itu, gelar ini juga menunjukkan bahwa Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bukan hanya membaur (yakhtalit) tetapi juga tetap istimewa dan memiliki kemuliaan dan nilai  tersendiri (yatamayyazun).  Sebab, betapa banyak da’i yang  membaur, tetapi tidak dikenal sebagai Al Amin, atau gelar baik lainnya. Justru melekat pada mereka julukan yang tidak sedap; tukang hutang, tidak amanah, jam karet, jarang ke masjid, dan lainnya.

Pada masa sebelum bi’tsah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah berkumpul di rumah Abdullah bin Jud’an tokoh kafir qurasiy saat itu bersama kafir Qurasiy lainnya. Pertemuan itu diistilahkan dengan Hilful Fudhul.

Rasulullah juga pernah memberikan makan dan menyuapi sendiri makanan tersebut kepada seorang nenek buta yang sangat membencinya. Nenek ini selalu mempengaruhi orang lewat agar hat-hati dengan seorang bernama Muhammad. Tetapi, justru Rasulullah yang memberikannya makan dan menyuapinya. Dan, masih banyak contoh lainnya.

Yang jelas, dengan membaur di tengah manusia seorang da’i akan mendapatkan keutamaan dan  memberikan banyak manfaat pada banyak amalan-amalan yang disyariatkan seperti; shalat berjamaah, mengurus jenazah, menjenguk orang sakit, mengajar atau belajar, majelis dzikir, silaturrahim, dan suhbatush shalihin (bersahabat dengan orang shalih). Sehingga, dia bisa memperoleh kesempatan untuk meraih posisi sebagai manusia terbaik.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

و خير الناس أنفعهم للناس

“Sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang paling bermanfaat bagi manusia.” (Syaikh Al Albani menyatakan: Hasan shahih. Lihat As Silsilah Ash Shahihah No. 426. Darul Ma’arif)

Membaur di tengah masyarakat,  tetapi mampu bertahan dari fitnah yang ada pada mereka, adalah lebih utama dibanding ‘uzlah (mengasingkan diri). Imam An Nawawi menegaskan  dalam Riyadhushshalihin tentang keutamaan membaur dengan manusia dan ikut dalam perkumpulan mereka, menyaksikan kebaikan, bermajelis dzikir bersama mereka, menjenguk yang sakit, mengurus jenazah, membantu kebutuhannya, dan semua bentuk kemasalahatan lainnya bagi yang mampu beramar ma’ruf nahi munkar, menahan diri dari berbuat jahat dan bertahan pula dari bentuk kejahatan manusia.

Lalu Imam An Nawawi Rahimahullah melanjutkan:

اعْلم أنَّ الاختلاط بالنَّاسِ عَلَى الوجهِ الَّذِي ذَكَرْتُهُ هُوَ المختارُ الَّذِي كَانَ عَلَيْهِ رسول الله – صلى الله عليه وسلم – وسائر الأنبياء صلواتُ اللهِ وسلامه عَلَيْهِمْ ، وكذلك الخُلفاءُ الرَّاشدون ، ومن بعدَهُم مِنَ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ ، ومن بَعدَهُم من عُلَماءِ المُسلمين وأَخْيَارِهم ، وَهُوَ مَذْهَبُ أكثَرِ التَّابِعينَ وَمَنْ بَعدَهُمْ ، وبه قَالَ الشافعيُّ وأحمدُ وأكثَرُ الفقهاءِ رضي اللهُ عنهم أجمعين. قَالَ اللهُ تَعَالَى: { وَتَعَاوَنُوا عَلَى البِرِّ وَالتَّقْوَى } [ المائدة : 20 ] والآيات في معنى مَا ذكرته كثيرة معلومة .

Ketahuilah, bahwa membaur dengan manusia dengan cara seperti yang telah saya sebutkan, adalah sika pilihan yang di atasnya Rasulullah  Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berada, juga semua para Nabi Shalawatullah wa salamuhu ‘Alaihim, demikian juga para khulafa’ur rasyidin, dan yang setelah mereka dari kalangan sahabat dan tabi’in, dan yang setelah mereka dari kelompok ulama Islam dan manusia-manusia terbaik mereka, dan inilah madzhab mayoritas tabi’in dan manusia  setelah mereka. Inilah pendapat Asy Syafi’i, Ahmad, dan mayoritas fuqaha Radhiallahu ‘Anhum ajma’in. Allah Ta’ala berifirman: “Saling tolong menolonglah dalam kebaikan dan ketaqwaan.” (QS. Al Maidah (5): 20). Dan ayat-ayat yang semakna sebagaimana yang telah saya sebutkan banyak jumlahnya dan terkenal. (Lihat Riyadhushshalihin Hal. 210. Cet. 3. 1998M – 1419H. Muasasah Ar Risalah. Tahqiq: Syaikh Syu’aib Al Arna’uth)

Ghuraba Itu Bukan ‘Uzlah

Orang-orang terasing (ghuraba) bukanlah orang yang lari dari kenyataan hidup, menyendiri di pegunungan dan tepi pantai. Itu bukan ghuraba,  melainkan gambaran orang-orang kalah. Ghuraba adalah orang-orang yang tetap melakukan perbaikan di tengah-tengah masyarakat yang rusak, dan mereka senantiasa menghidupkan sunah dan mengajarkannya kepada manusia. Mereka terasing karena keunikan dan keistimewaan sikap hidup mereka. Mereka memperbaiki ketika manusia merusaknya, mereka menghidupkan sunah ketika manusia mematikannya, mereka memberantas kesyirikan dan khurafat ketika masyarakat menyuburkannya, mereka memerangi kebatilan ketika masyarakat menjadi pembelanya, mereka memenuhi masjid ketika masyarakat menjauhinya, mereka menangis di tengah malam menghadap Rabbnya ketika manusia mengisi malamnya dengan hura-hura dan maksiat, mereka menyiapkan diri untuk berjihad ketika manusia meremehkan dan mencela jihad. Demikianlah ghuraba dan beruntunglah mereka.

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
 
“Pertama kali muncul, Islam dianggap asing (gharib), nanti dia akan dianggap asing lagi seperti awalnya. Maka, beruntunglah orang-orang terasing itu.” (HR. Muslim No.145. Ibnu Majah No. 3986. Abu ‘Uwanah dalam Mustakhraj No. 221. Ath Thabarani dalam Al Awsath No. 7493, dari Abu Said Al Khudri. Al Qudha’i dalam Musnad Asy Syihab No. 982, dari Ibnu Umar. Abu Ja’far Ath Thahawi, Musykilul Atsar No. 588, dari Anas bin Malik )

Dalam riwayat lain, dari Abdurrahman bin Sannah Radhiallahu ‘Anhu,   dia mendengar bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا ثُمَّ يَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ الْغُرَبَاءُ قَالَ الَّذِينَ يُصْلِحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ

“Pertama kali muncul, Islam dianggap asing (gharib),  kemudian dia akan dianggap asing lagi seperti awalnya. Maka, beruntunglah orang-orang terasing itu.” Ditanyakan: “Wahai Rasulullah siapakah ghuraba itu?” Beliau menjawab: “Orang-orang yang melakukan perbaikan ketika manusia merusak.” (HR. Ahmad No. 16094. Ibnu Baththah, Ibanah Al Kubra No. 30, dari Abu Hurairah. Alauddin Al Muttaqi Al Hindi, Kanzul ‘Ummal, No. 1201. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani, lihat As Silsilah Ash Shahihah No. 1273 )

Apa yang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam katakan ini telah menganulir pemahaman yang keliru tentang ghuraba. Memperbaiki masyarakat yang rusak tidak bisa menjauhi mereka, seorang dokter harus memeriksa langsung pasiennya, pemadam kebakaran tidak bisa menyiram di luar jangkauan pancaran airnya. Itu semua tidak menyembuhkan penyakit dan tidak pula  mampu memadamkan api.  Maka, mendekatlah dan membaurlah dengan masyarakat, dan bersabarlah dan bertahanlah atas fitnah dan cobaan di tengah-tengah mereka. Jadilah cermin yang tertimpa air, bukan spons.  Itulah ghuraba.

Wallahu A’lam

sumber : 
www.abuhudzaifi.multiply.com
18.56 | 0 komentar

Bersama Langit, Engkau tak Perlu Risau


Begitulah langit. Selalu penuh dengan keajaiban, penuh dengan kekuatan tak terbatas. Langit, memang, dan selalu begitu. Akan menurunkan keajaiban-keajaibannya yang kadang kita pun akan dibuat takjub. Kadang keajaiban itu, dia adalah tetesan-tetesan lembut nan menyejukkan dari air hujan yang turun membasahi dedaunan, membasahi pepohonan, membasahi bumi yang sedang kering. Kadang keajaiban itu adalah berupa hangatnya sang mentari, yang menghangatkan dunia, yang mencerahkan dunia setelah pekat mendera. 

Kadang juga, keajaiban itu berupa pesonanya yang membiru, awan yang berarak, dan juga bintang gemintang yang berkilauan diterpa pantulan sinaran mentari. Indah, dan mempesona. Ajaib dan begitu indah. Inilah langit.

Dan ternyata, tak hanya itu, langit menyimpan sejuta keberkahan, yang sayang ketika kita tak mau meraihnya. Langit adalah pusat dari kekayaan, dan ia adalah kekayaan batin, langit adalah pusat energi, dan ia adalah energi jiwa, yang tak akan kau temukan di bumi. Asalkan kau dekat dengan langit, maka keberkahan langit akan menyertaimu. Keberkahan akan hadir ketika dalam setiap aktivitas kita, ketika kita selalu melibatkan langit dalam kebersamaan dengan kita.

Mereka-mereka yang menyejarah itu, mereka bukanlah orang yang suka bermimpi atau orang yang berdoa dengan kekosongan dan ketidakberdayaan. Mereka selalu melirik dan menatap langit untuk menyeka dan menyegarkan ingatan pada misi mereka. Namun, mereka selanjutnya kembali ke bumi, dan menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan besar yang mereka hadapi. Mereka melangit, tapi tetap membumi.

Langit adalah sebagai tumpuan, langit sebagai tempat menemukan spirit dan vitalitas, langit adalah sebagai landasan yang akan menentukan langkah kita selanjutnya. Maka, tetaplah bersama dan membersamai langit, di saat apapun, di waktu kapan pun, dan bersama siapa pun, tetaplah bersama langit, dan kau akan menemukan keajaiban-keajaiban itu. Tetaplah bersama kekuatan langit, lalu selanjutnya kembali menyemai benih yang ditanam, menanamnya, merawatnya, membersihkan dari hama. Dan ketika engkau setia bersama langit, tak akan ada yang perlu kau khawatirkan di bumi.
01.00 | 0 komentar

Doa Basa Basi

oleh Ustadz Samson Rahman

وقال ربكم ادعوني أستجب لكم إن الذين يستكبرون عن عبادتي سيدخلون جهنم داخرين

Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina". (Ghafir : 60).

Allah memerintahkan kita untuk senantiasa berdoa dan meminta pada-Nya. Karena dalam doa itu ada ketundukan dan kerendahan diri Dalam doa terselip rasa bahwa kita sedang menghamba pada Dzat Yang tangan-Nya senantiasa terbuka menerima permintaan hamba-Nya. Dalam doa terkandung makna bahwa kita serba kurang dan tidak berkecukupan. Sehingga kita pantas menengadahkan tangan pada Sang Maha Kaya, Sang Maha Pemberi yang tatkala diminta semakin mencintai hamba-hamba-Nya.

Allah memberikan jaminan pasti bahwa doa-doa yang terlantun syahdu dalam pinta kita akan senantiasa mendapat respon positif dan pasti. Makanya dalam firman-Nya Allah menegaskan "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu ".

Penegasan ini juga Allah nyatakan dalam firman-Nya yang lain :

وإذا سألك عبادي عني فإني قريب أجيب دعوة الداع إذا دعان فليستجيبوا لي وليؤمنوا بي لعلهم يرشدون

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat.. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (Al-Baqarah : 186)

Allah sangat dekat dengan hamba-Nya. Dia lebih dekat pada kita semua semua daripada urat nadi kita. Dia dekat dengan cinta-Nya, dekat dengan kasih-Nya, dekat dengan rahmat-Nya yang mengalir deras pada semua. Tak ada kata dan doa yang lepas dari ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu. Marilah kita berdo kepada Allah dengan berendah diri dan suara yang lembut. Karena Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.

Ada pertanyaan yang muncul di benak kita semua kenapa doa-doa yang kita lantunkan sering kali tidak Allah kabulkan? Kenapa doa-doa yang kita ajukan seakan tidak mendapatkan respon cepat dari Allah?

Jawaban paling tepat untuk jawaban ini adalah : Sebab kita sering berdoa hanya sekedar basa-basi. Doa yang hampa makna, doa yang kering kerontang dari kekhusyuan, doa yang sepi dari kerendahan jiwa, doa yang kosong dari nilai ibadah. Doa yang tiada kesungguhan di dalamnya, yang hanya terucap di mulut dan bukan terlontar dari hati yang luruh. Doa yang hanya terucap dari getar bibir kita bukan dari lubuk hati yang bertabur harap dan cinta.

Rasulullah pernah memberikan tip pada kita semua agar doa kita mendapatkan jawaban Allah.

ادعوا الله و أنتم موقنون بالإجابة و اعلموا أن الله لا يستجيب دعاء من قلب غافل لاه

Berdoalah kepada Allah dan hendaknya kalian yakin sepenuhnya bahwa ia akan dikabulkan. Dan ketahuilah bahwa Allah tidak akan mengabulkan doa dari hati yang lalai (HR. Tirmidzi dan Hakim).

Diantara kita ada yang berdoa namun kita sendiri tidak merasa yakin bahwa doa kita akan terkabul. Hati kita berselimut lalai, bertabur kekosongan. Keyakinan kita tidak penuh bahwa Allah pasti mengabulkan doa kita. Doa kita basa-basi.

Kita sering kali berdoa dengan cara basa-basi. Karena kita berdoa dengan hati yang mati, dengan jiwa yang kering, dengan nurani yang kelam. Kita mengenal Allah namun tidak segera menunaikan kewajiban-kewajiban kita atasnya. Kita sering membaca kitab Allah-Al-Quran dengan seluruh ajaran yang terkandung di dalamnya, namun kita sangat enggan mengamalkanya. Kita tahu bahwa syetan adalah musuh utama kita namun kita menjadikannya sabahat kita. Kita mengklaim bahwa kita cinta Rasulullah, namun kita secara sadar pula menjauh dari jejak dan sunnahnya. Kita nyatakan cinta surga Allah yang indah dan penuh nikmat, namun tidak pernah memburunya dengan amal-amal kita. Kita nyatakan takut neraka namun tidak menghentikan perilaku dosa kita. Kita nyatakan kematian itu benar adanya, namun kita tidak secara cerdas menyiapkan bekalnya. Kita sering kali sibuk dengan aib kecil dan cela orang lain namun lupa akan aib diri yang setinggi gunung dan seluas samudera. Kita memakan dan menikmati nikmat Allah namun lupa menyukurinya. Kita menguburkan orang-orang meninggal diantara kita namun tidak bisa mengambil pelajaran bahwa kita juga akan mengalami hal yang sama.

من سره أن يستجيب الله له عند الشدائد و الكرب فليكثر الدعاء في الرخاء

Barang siapa yang ingin dikabulkan Allah pada saat kesempitan maka hendaknya dia banyak berdoa saat lapang (HR. Tirmidzi dan Hakim).

Diantara kita bahkan hanya berdoa saat membutuhkan saja. Saat terjepit dan dilanda kesusahan. Di kala lapang Allah tidak pernah berlabuh dalam jiwa kita yang paling dalam. Padahal menurut Rasulullah jika ingin doa kita dikabulkan dengan segera.maka berdoalah di kala lapang sebagai investasi yang bisa kita tarik di masa sempit.

Doa kita berujung sia-sia, karena mulut kita yang kita berdoa dengannya juga kita gunakan untuk menelan dan memakan makanan haram yang Allah larang menkonsumsinya. Mulut kita bahwa belepotan dengan darah karena kita sering memakan mentah-mentah daging saudara kita dengan menggunjing dan menggosipnya. Dengan membuka aib dan melanjanginya.

Allah mengingatkan kita dalam sabdanya :

من لم يطب مطعمه فلا عليه أن لا يكثر من الدعاء

Barang siapa yang tidak halal makanannya maka tidak ada gunanya dia berdoa sebanyak-banyaknya (HR. Ad-Dailami)

و الذي نفسي بيده لتأمرن بالمعروف و لتنهون عن المنكر أو ليوشكن الله أن يبعث عليكم عقابا من عنده ثم لتدعنه فلا يستجيب لكم

Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya. Kamu segera melakukan amar makmur atau nahi mungkar atau akan segera datang padamu sanksi dari sisi-Nya kemudian kalian berdoa pada-Nya dan Dia tidak kabulkan kalian (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

يستجاب لأحدكم ما لم يدع بإثم أو قطيعة رحم أو يستعجل فيقول دعوت فلا أرى يستجيب لي فيدع الدعاء

Allah akan mengabulkan doa salah seorang diantara kalian sepanjang tidak berdoa untuk sebuah dosa, atau memutuskan tali silaturahim atau tergesa-gesa untuk dikabulkan sehingga dia mengatakan : aku telah berdoa namun aku tidak melihat doaku dikabulkan, lalu dia meninggalkan doa (HR. Bukhari).

Doa kita akan Allah kabulkan jika doa yang kita lantunkan tidak dilakukan dengan cara basa-basi. Lantunkanlah doa dengan hati yang penuh kekhusyu'un dan ketundukan. Dengan penuh makna tanpa putus asa dan harapan.


Sumber : http://www.eramuslim.com/nasihat-ulama/ustadz-samson-rahman-doa-basa-basi.htm
18.01 | 0 komentar

Lutfi: Mesin PKS ada di seluruh pelosok negeri


Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Lutfi Hasan Ishak menjelaskan kekuatan partainya di kantor Tribun Timur, Jl Cenderawasih, Makassar, Kamis (16/2/2012)

Penjelasan Lutfi sebelum membuka rapat koordinasi nasional (Rakornas) PKS yang akan diikuti sebanyak 600 kader inti PKS di Hotel Grand Clarion, Jl AP Pettarani, Makassar, Kamis (16/2/2012) malam.

"Kita di PKS itu berbeda dari partai misalnya Demokrat. Kekuatan Partai Demokrat itu ada pada tokoh nasionalnya, tokoh nasionalnya lah seperti pak SBY yang menggerakkan mesin partainya," kata Lutfi kepada redaksi Tribun Timur.

"Kalau PKS itu, kita tidak bergantung dengan tokoh nasional, kita hanya menentukan kualifikasinya. Mesin partai itu ada pada kader di daerah," tambah Lutfi.

Lutfi juga mengemukakan soal patron partainya yang tidak hanya pada patron islamisentris dan indonesiantris sudah dalam bingkai platform PKS. Untuk itu, menurut Lutfi, PKS adalah partai terbuka. Tidak hanya mematok kader internal sebagai figur usungan di pilkada.

"Jadi PKS tidak harus selalu dari internal, kalau ada orang eksternal yang memang memenuhi syarat maka orang lain bisa juga diusung PKS, artinya kita Indonesia lah," jelas Lutfi.

Sebelum menumpahkan unek-uneknya pada pembukaan Rakornas, Lutfi mengatakan, pihaknya belum menentukan calon PKS di Pilgub bahkan calon wali kota.[Tribun News]
17.23 | 0 komentar

KIPRAH KEWANITAAN

GALLERY FOTO

Cari Artikel di Sini

Counters


Categories