Assalamu Alaikum, Selamat Datang Saudaraku  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?

Pakaian Bernama Malu

Oleh Asma Nadia

“Bunda senang kalau Adam nggak pemalu?“ Pertanyaan yang disampaikan dengan sorot mata jernih dari bungsu saya, seharusnya mudah saja dijawab. Saking mudahnya barisan kalimat bahkan telah menarinari di ujung lidah. Tetapi, satu pikiran memaksa saya memberi jeda sebelum membuka mulut.

Benarkah saya senang jika anak-anak tidak menjadi seorang pemalu? Secara umum ya.

Saya rasa akan memudahkan orang tua jika ananda mudah bergaul, tidak bersembunyi di balik tubuh orang tua, saat teman-teman lain bermain bersama. Atau berlomba-lomba mengacungkan tangan untuk menjawab pertanyaan guru di kelas. Tetapi, sebuah hadis membuat persoalan malu ini menjadi tidak sesederhana itu.

Sebab, memiliki rasa malu juga merupakan pesan dari nabi-nabi terdahulu sampai yang terakhir. Dalam skala yang lain, malu bisa jadi merupakan satu kata kunci yang bisa membuat setiap bangsa menjadi besar dan maju. Dan, saya kira si bungsu harus tahu tentang ini. Saya pandang matanya saat mengutip sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari.

Hadis tersebut berbunyi, “Sesungguhnya ungkapan yang telah dikenal orang-orang dari ucapan nabi-nabi terdahulu adalah: Jika engkau tidak malu, perbuatlah apa yang engkau suka.“ Sedangkan, kakaknya yang baru saja bergabung dalam diskusi kecil kami, tampak merenung. Si bungsu saya terlihat bingung mendengar kutipan di atas sehingga saya harus memberikan tambahan penjelasan.

Rasa malu adalah sesuatu yang harus dilekatkan dalam diri jika itu bisa menjadi tameng dari keinginan berbuat buruk. Jika punya rasa malu, tidak mungkin sebuah lembaga tinggi negara merenovasi bagian dalam gedung seluas sekitar 100 meter persegi dengan biaya Rp 20 miliar dan menganggarkan dana Rp 24 juta hanya untuk sebuah kursi.

Jika masih terselip rasa malu, tidak mungkin terjadi seorang yang bersalah diberikan hadiah kebebasan dan seorang yang tidak bersalah dijatuhkan vonis hukuman. Jika malu masih menyatu dengan diri, tidak akan ada petugas yang dengan sukacita memungut uang yang dilempar sopir bus atau truk dari kendaraannya.

Dan, jika malu masih menjadi pakaian diri, mustahil ada tokoh agama yang memilih dan memutuskan mana yang hak dan mana yang batil semata-mata berdasarkan pesanan atau mengenyahkan rasa malu sebab takut pada hal-hal yang bersifat duniawi. Lalu, apa artinya rasa malu dalam keluarga?

Jika ada rasa malu, tidak mungkin seorang ayah berlama-lama menganggur di rumah, membiarkan ekonomi keluarga tertumpu di pundak istri, atau lebih parah lagi mengandalkan anak belasan tahun yang terpaksa berhenti sekolah demi menopang kehidupan keluarga.

Jika rasa malu terlekat kuat, tidak akan ada ayah yang tega menghabiskan uang untuk merokok ketika keperluan sekolah anak-anak dan kebutuhan lain keluarga masih tak bisa ia penuhi. Rasa malu juga yang akan mencegah seorang bunda untuk sibuk dengan ponsel, chatting, bermain Facebook atau Twitter, ketika ananda di dekatnya kebingungan mengerjakan pekerjaan rumah.

Pun, rasa malu yang membuat orang berpikir ulang bergonta-ganti gadget, ponsel, mobil, dan pameran kemewahan lainnya, sementara di sekitar mereka berseliweran kemiskinan dalam berbagai rupa. “Tetapi, bukannya nggak boleh jadi anak pemalu, Bunda?“ Telah beberapa jam lewat dari pertanyaannya yang pertama. Di dekatnya, si kakak tampak menggaruk-garuk kepala yang mungkin tidak gatal.

Tidak ada kata malu dalam jalan kebaikan. Tidak ada malu yang boleh dibiarkan hingga seseorang kehilangan banyak kesempatan memberi manfaat lebih besar bagi orang lain. Tetapi, dengan rasa malu, seseorang akan berhenti sebelum melakukan keburukan sekalipun belum ada hukum negara yang dilanggar.

Sebaliknya, seseorang akan terdorong untuk melakukan banyak kebaikan meskipun tidak ada yang memberikan instruksi. Sebab, malu adalah ajaran para nabi. Sebab, malu merupakan sebagian dari iman yang harus abadi di dalam dada. Dan percayalah, jika pakaian bernama malu masih kita kenakan, kita akan lebih sering menudingkan telunjuk ke diri sendiri ketimbang kepada orang lain.***



*)REPUBLIKA (Resonansi, Sabtu 04/02/12)
19.01 | 0 komentar

Fitnah Dunia

3
email
prin
عن عَمْرو بْنَ عَوْفٍ الأنصاري رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ أَبَا عُبَيْدَةَ بْنَ الْجَرَّاحِ إِلَى الْبَحْرَيْنِ يَأْتِي بِجِزْيَتِهَا فَقَدِم بِمَالٍ مِنَ الْبَحْرَيْنِ فَسَمِعَتِ الْأَنْصَارُ بِقُدُومِ أَبِي عُبَيْدَةَ فَوَافَوْا صَلَاةَ الْفَجْرِ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا انْصَرَفَ تَعَرَّضُوا لَهُ فَتَبَسَّمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ رَآهُمْ ثُمَّ قَالَ أَظُنُّكُمْ سَمِعْتُمْ أَنَّ أَبَا عُبَيْدَةَ قَدِمَ بِشَيْءٍ قَالُوا أَجَلْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَأَبْشِرُوا وَأَمِّلُوا مَا يَسُرُّكُمْ فَوَاللَّهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنِّي أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمُ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ

Dari Amru bin Auf al-Anshari RA bahwa Rasulullah SAW mengutus Abu Ubaidah bin al-Jarrah ke al-Bahrain untuk mengambil jizyahnya. Kemudian Abu Ubaidah datang dari Bahrain dengan membawa harta dan orang-orang Anshar mendengar kedatangan Abu Ubaidah. Mereka berkumpul untuk shalat Subuh dengan Nabi SAW tatkala selesai dan hendak pergi mereka mendatangi Rasul SAW, dan beliau tersenyum ketika melihat mereka kemudian bersabda:”Saya yakin kalian mendengar bahwa Abu Ubaidah datang dari Bahrain dengan membawa sesuatu?” Mereka menjawab:”Betul wahai Rasulullah”. Rasul SAW bersabda:” Berikanlah kabar gembira dan harapan apa yang menyenangkan kalian, demi Allah bukanlah kefakiran yang paling aku takutkan padamu tetapi aku takut dibukanya dunia untukmu sebagaimana telah dibuka bagi orang-orang sebelummu dan kalian akan berlomba-lomba mendapatkannya sebagaimana mereka berlomba-lomba, dan akan menghancurkanmu sebagaimana telah menghancurkan mereka” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah dari Nabi SAW bersabda: ”Celakalah hamba dinar (emas), dirham (perak), pakaian dan pakaian sutra. Jika diberi ia suka dan jika tidak ia tidak suka” (HR Bukhari). Dalam riwayat Bukhari yang lain:” Jika diberi ia suka dan jika tidak ia murka, celakalah dan semoga celaka dan jika terkena duri tidak ada yang mengeluarkannya. Berbahagialah bagi seorang hamba Allah yang mengambil kendali kudanya di jalan Allah kepalanya acak-acakan dan kakinya berdebu, jika ia disuruh berjaga maka berjaga dan jika disuruh di depan maka ia di depan. Jika ia minta izin tidak diizinkan dan jika minta pesan tidak dikabulkan”

Dari Abu Said Al-Khudri RA dari Nabi SAW bersabda:”Sesungguhnya dunia itu manis dan lezat, dan sesungguhnya Allah menitipkannya padamu, kemudian melihat bagaimana kamu menggunakannya. Maka hati-hatilah terhadap dunia dan hati-hatilah terhadap wanita, karena fitnah pertama yang menimpa bani Israel disebabkan wanita” (HR Muslim)

Harta dengan segala macamnya pada dasarnya adalah kenikmatan yang diberikan Allah swt kepada hambanya. Dan manusia harus menjadikannya sebagai sarana ibadah dalam hidupnya. Tetapi yang sering terjadi dan menimpa manusia ialah bahwa harta berubah menjadi fitnah dan bencana yang merugikan dirinya di dunia maupun akhirat. Sebagaimana diisyaratkan dalam Al-Qur’an yang artinya:

”Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar” (At-Taghaabun 14-15).

Allah SWT berfirman yang artinya:
”Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan `ainul yaqin, kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)” (At-Takaatsur 1-8)

Manusia yang mestinya menjadikan harta sebagai sarana tetapi mereka menjadikan nya tujuan hidup bahkan banyak yang menghambakan hidupnya pada harta. Sehingga celakalah mereka. Oleh karenanya agar manusia tidak terfitnah dengan harta dan tidak jatuh pada fitnahnya hendaknya mereka mengetahui beberapa hal berikut:

1. Hakikat Harta dan Dunia
a. Dunia adalah permainan dan senda gurau. Allah SWT berfirman yang artinya:
”Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui” (QS Al-Ankabuut 64).
b. Kesenangan yang menipu. Allah SWT berfirman yang artinya:
”Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan” (QS Ali Imran 185).

c. Kesenangan yang terbatas dan sementara, Firman-Nya;
“Janganlah sekali-kali kamu terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya” (QS Ali Imran 196-197)

d. Jalan atau jembatan menuju akhirat, Rasulullah SAW bersabda yang artinya:
“Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir” (HR Bukhari dari Ibnu Umar). Imam Ahmad, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah menambahkan: “Posisikan dirimu bahwa engkau termasuk ahli kubur”.

2. Mengetahui Kedudukan Manusia
Manusia diciptakan Allah sebagai pemimpin yang harus memakmurkan bumi. Maka mereka harus menguasai dunia atau harta bukan dikuasai oleh harta. Sebagaimana doa yang diungkapkan oleh Abu Bakar RA: ”Ya Allah jadikanlah dunia di tanganku bukan masuk ke dalam hatiku”. Kedudukan manusia lebih mulia dari dunia dan seisinya maka jangan sampai diperbudak oleh dunia atau harta benda. Manusia memang harus memakmurkan dunia tetapi jangan sampai hal itu melalaikan dirinya dari visi dan misi mereka.

3. Mengetahui bahwa segala yang dimiliki manusia berupa harta kekayaan akan dihisab. Manusia harus mengetahui dan sadar bahwa kekayaan yang mereka miliki akan diperhitungkan di akhirat kelak. Bahkan semua yang dimiliki dan dinikmati manusia baik kecil maupun besar akan dicatat dan dipertanggungjawabkannya. Oleh karenanya mereka harus berhati-hati dalam mencari harta kekayaan dan dalam membelanjakannya. Jangan sampai mencarinya dengan cara yang diharamkan Allah dan membelanjakannya pada sesuatu yang diharamkan Allah. Lebih jauh lagi manusia harus menjauhkan diri dari diperbudak oleh harta.

4. Sadar bahwa kenikmatan di akhirat jauh lebih nikmat dan abadi. Seluruh bentuk kenikmatan Allah yang diberikan hamba-Nya di dunia hanyalah sebagian kecil saja. Rasulullah saw bersabda yang artinya: Artinya: Dari Abu Hurairah RA berkata: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda:

”Allah menjadikan rahmat 100 bagian, 99 bagian Allah tahan dan Allah turunkan ke bumi satu bagian. Satu bagian itulah yang menyebabkan sesama makhluk saling menyayangi sampai kuda mengangkat telapak kakinya dari anaknya khawatir mengenainya” (Muttafaqun ‘alaihi).

Begitulah, kenikmatan paling nikmat yang Allah berikan di dunia hanyalah satu bagian saja dari rahmat Allah swt sedangkan sisanya Allah tahan dan hanya akan diberikan kepada orang-orang beriman di surga. Oleh karena itu dalam kesempatan lain Rasulullah saw bersabda tentang dunia bagi orang beriman yang artinya: Dari Abu Hurairah RA berkata:

“Rasulullah SAW bersabda: “Dunia adalah penjara bagi mukmin dan surga bagi orang kafir” (HR Muslim).

Bahkan Rasulullah SAW suatu saat dalam perjalanan bersama sahabat dan melewati pasar, di sana ada seekor kambing yang mati dan cacat. Maka Rasulullah saw memegang telinganya dan berkata: “Siapakah yang mau membeli kambing ini satu dirham?” Sahabat berkata: “Kami tidak suka sedikit pun, dan untuk apa kambing itu?” Rasul saw melanjutkan: “Maukah ini untukmu?” Sahabat menjawab: “Demi Allah jika masih hidup kambing ini cacat, apalagi kambing sudah jadi bangkai!” Maka Rasulullah bersabda: “Demi Allah dunia untukmu lebih hina dari kambing ini di hadapan Allah”. Allah SWT berfirman yang artinya:

“Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir” (QS At-Taubah 55)

Begitulah karakteristik dunia yang dicari-cari manusia, apakah mereka tetap tidak sadar!

Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/01/17994/fitnah-dunia/#ixzz1lwo3PPmy
18.57 | 0 komentar

Muhammad SAW: Negarawan Teragung Sepanjang Masa

"Ia satu-satunya orang yang berhasil meraih kesuksesan luar biasa, baik dalam hal agama maupun duniawi," -Michael H Hart-

12 Rabiul Awal merupakan tanggal yang penting bagi umat Islam di seantero dunia. Pada tanggal itulah, manusia termulia dan teragung sepanjang masa terlahir ke muka bumi. Manusia terhebat itu bernama Muhammad SAW – utusan Allah SWT – yang membawa ajaran Islam.

Menurut John L Esposito dalam Ensiklopedi Oxford, Muhammad SAW adalah seorang Nabi dan Rasul Allah yang telah membangkitkan salah satu peradaban besar di dunia. Tak heran jika Michael H Hart, dalam bukunya The 100, menetapkan Muhammad SAW sebagai tokoh paling berpengaruh sepanjang sejarah manusia.

‘’Ia satu-satunya orang yang berhasil meraih kesuksesan luar biasa, baik dalam hal agama maupun duniawi,’’ ujar Hart. Muhammad SAW tak hanya dikenal sebagai pemimpin umat Islam, beliau juga dikenal sebagai seorang negarawan teragung, hakim teradil, pedagang terjujur, pemimpin militer terhebat dan pejuang kemanusiaan tergigih.

Rasulullah SAW terbukti telah mampu memimpin sebuah bangsa yang awalnya terbelakang dan terpecah belah, menjadi bangsa yang maju yang bahkan sanggup menggalahkan bangsa-bangsa lain di dunia pada masa itu. Afzalur Rahman dalam Ensiklopedi Muhammad Sebagai Negarawan, mengungkapkan, dalam tempo kurang lebih satu dekade, Muhammad SAW berhasil meraih berbagai prestasi yang tak mampu disamai pemimpin negara mana pun.

***

Sebagai seorang penguasa, Muhammad SAW telah memberi sumbangan luar biasa terhadap bangunan filsafat politik dan praktik pemerintahan. Kontribusinya ini menjadi saksi hidup yang membuktikan kebesarannya sebagai negarawan yang jenius dengan kecakapan yang luar biasa.

Kualitas kepemimpinan Muhammad terlihat sejak belia, sebelum menjadi nabi. Sikap dan perilakunya yang jujur dan adil dalam berinteraksi membuat penduduk Makkah menghormatinya. Masyarakat Makkah pun menyebutnya sebagai Al-Amin (orang yang terpercaya) dan Shadiq (orang yang benar).

Di usia belia, Muhammad SAW mampu menyelesaikan perselisihan di antara suku-suku Quraisy terkait dengan masalah pengembalian Hajar Aswad ke tempatnya semula. Di tengah perdebatan yang alot, Muhammad mengambil keputusan yang sangat cerdik untuk menyelesaikan situasi pelik itu.

Beliau menghamparkan jubah di atas tanah dan meminta agar Hajar Aswad diletakkan di tengah-tengah hamparan jubah itu. Beliau kemudian meminta masing-masing suku memegang ujung jubah itu dan bersama-sama mengangkat Hajar Aswad dan meletakkannya kembali ke tempat semula. Persengketaan pun diselesaikan secara damai.

***

Kepemimpinan Nabi Muhammad sebagai seorang kepala negara dimulai ketika kaum Muslim hijrah dari Makkah ke Madinah. Di kota suci kedua bagi umat Islam itulah, komunitas kecil kaum Muslim di bawah kepemimpinan Muhammad SAW berhimpun.

Pada masa-masa awal kehidupan di Madinah, Rasulullah SAW dihadapkan pada situasi sulit. Kaum muhajirin hidup miskin, tidak berdaya, dan tidak mempunyai berbagai sarana kehidupan. Sementara itu, kaum Quraisy Makkah mengancam untuk menyerang Madinah, menghancurkan komunitas Muslim yang masih kecil.

Kaum Yahudi-Madinah juga bersekongkol dengan orang-orang musyrik Makkah untuk memusuhi kaum Muslim. Tak hanya itu, sejumlah suku Arab di sekitar Madinah juga menunjukkan sikap permusuhan terhadap keyakinan baru ini, dan pada saat yang bersamaan mulai berkembang kelompok munafik di antara kaum Muslim Madinah sendiri

Siapa pun, yang kuat dan kaya sekalipun, pasti kewalahan menghadapi tekanan dan beban ini. Namun, Muhammad dapat menyelesaikan situasi sulit dan tak terduga ini dengan efektif dan berhasil. Ini membuktikan kenegarawanan dan kecakapannya dalam bidang politik.

***

Menghadapi kenyataan yang sangat sulit itu, Muhammad SAW mengambil serangkaian langkah untuk mengukuhkan Negara Islam yang baru didirikan itu secara sosial, politik dan ekonomi. Ia mampu menegakkan otoritas politik dan memelihara hukum serta ketertiban di seluruh wilayah suku-suku di dalam dan di sekitar Madinah.

Lalu, Muhammad membuat berbagai perjanjian dengan kepala-kepala suku Arab dan suku-suku Yahudi di sekitar Madinah. Melalui serangkaian langkah itulah Nabi Muhammad mampu membawa Negara Islam Madinah sebagai sebuah negara yang aktif memainkan berbagai peran politik di seluruh penjuru wilayah.

Marshal G Hodgson dalam tulisannya yang bertajuk The Venture of Islam, mengungkapkan, "Masyarakat Muhammad terdiri dari kaum Muslim dan non-Muslim dalam berbagai ragam derajat keanggotaan."

Sejak saat itu, tulis Hodgson, komunitas itu tak lagi sekadar sebuah suku baru yang terdiri dari orang-orang beriman atau bahkan sekedar perkumpulan revolusioner lokal. ‘’Masyarakatnya terdiri dari berbagai unsur heterogen yang diorganisasi secara lebih baik dibandingkan sistem organisasi masyarakat Makkah, baik secara religius maupun politik,’’ papar Hodgson.

***

Struktur politik yang dibangun Muhammad, papar Hodgson, merupakan bangunan yang kini dikenal dengan sebutan negara, seperti negara-negara lain yang ada di sekeliling Jazirah Arab, lengkap dengan otoritas tata pemerintahan yang berdasarkan aturan hukum.

Untuk menjalankan roda pemerintahannya, ungkap Hodgson, Muhammad mengirim sejumlah utusan yang bertugas mengajarkan Alquran dan prinsip-prinsip Islam, mengumpulkan zakat, dan menengahi berbagai perselisihan demi menjaga perdamaian dan mencegah permusuhan.

Sehingga, kaum Muslim Madinah melahirkan dan menciptakan suatu jalan hidup yang adil dan bernilai ketuhanan di seluruh wilayah Hijaz, bahkan juga pada wilayah-wilayah di luarnya.


*)REPUBLIKA
18.45 | 0 komentar

Seorang Guru Terpercaya

Inilah kenangan Syaikh Yusuf al-Qaradhawi semasa kecil. Beliau bertutur bahwa di kampungnya terdapat dua orang kuttab (guru yang mengajarkan menghafaal al-Quran). Syaikh Yamani Murad dan Syaikh Hamid Abu Zuwail. Untuk pertama kalinya beliau belajar pada Syaikh Yamani. "Tapi kami hanya bertahan satu hari belajar bersama Syaikh Yamani," ungkap Syaikh Qaradhawi mengenang masa kecilnya. "Setelah itu, kami tidak pernah lagi bersedia kembali belajar pada beliau," tambahnya.

Apa sebabnya? Sederhana saja. Lebih dikarenakan cara Syaikh Yamani mengajar. Untuk membuat muridnya giat, Syaikh Yamani sering menghukum murid-muridnya, yang terkadang dilakukan beliau tanpa sebab yang jelas. Sejak saat itu, Qaradhawi kecil tidak bersedia belajar pada Syaikh Yamani. "Tapi, dari sana saya belajar untuk tidak gemar mendzalimi dan tidak suka didzalimi." Kenang Syaikh Qaradhawi.

Akhirnya, ibundanya menyuruh belajar pada Syaikh Ahmad. Untuk meyakinkan putranya, sang ibu berjanji menitipkan langsung pada Syaikh. Syaikh Qaradhawi sangat teringat apa yang diungkapkan ibundanya. "Syaikh," kata ibunya, "Anak ini merupakan amanah untuk Anda."

"Ibu," jawab Syaikh Ahmad, "Dia adalah anak saya juga. Insya Allah, dia akan selalu saya awasi." Apakah Syaikh Ahmad sama sekali tidak pernah menghukum? Tidak juga. Qaradhawi kecil pernah akan dihukumnya karena sering berenang di sungai Nil. Hanya karena kasih sayang dan akhlak yang dimiliki Syaikh Ahmad sajalah yang menjadikan Qaradhawi kecil bertahan dan gigih belajar. Tak segan Syaikh memuji Qaradhawi sebagai murid yang bersungguh-sungguh, memiliki daya tangkap yang baik, dan selalu hadir di kelas paling awal. Semua itu dirasakan Qaradhawi kecil sebagai sebagai sikap yang tulus dan penuh keikhlasan. Tak mengherankan jika Qaradhawi kecil sampai mengatakan, "Kami sangat khawatir jika harus berpisah dengan Syaikh Ahmad."

_________________

Kita mungkin pernah mengenang guru-guru kita yang terpercaya. Boleh jadi hingga saat ini kita masih mengingatnya. Guru yang pernah mendidik kita dengan ketulusan dan keikhlasan. Guru yang menuangkan kasih sayangnya pada kita dengan sepenuh jiwa. Guru yang mengajari murid-muridnya semata karena hendak mencari keridlaan Allah. Guru yang memahami murid-muridnya dengan sebaik-baiknya. Pada mereka kita selalu panjatkan doa, "Semoga Allah membalasnya dengan yang lebih baik."

Sebagai pendidik, waktu terbanyak kita adalah mengajar. Jika separuh waktu hidup kita habis di depan murid, sementara kita melakukannya tanpa keikhlasan, adakah pahala dari Allah ta'ala yang akan kita peroleh? Jika waktu terbanyak kita adalah bersama anak-anak, sementara kebersamaan itu sarat dengan bentakan dan cacian, adakah yang kita dapatkan? Sungguh, pada Syaikh Ahmad-Gurunda Syaikh Qaradhawi- kita belajar. Semoga kelak murid-murid kita menjadi pribadi-pribadi yang salih dan bermanfaat bagi orang lain.

Berapa gaji yang diperlukan agar seorang guru bertambah keikhlasannya? berapa tunjangan yang diperlukan seorang guru agar secara tulus bersedia menghadapi anak-anak yang beragam, mengusap ingus anak dengan kasih sayang? Sungguh, bukan besarnya gaji dan tunjangan yang melahirkan semua itu. Panggilan jiwa sebagai pengajarlah yang mendorong mereka mengajar dengan sepenuh hati. Semoga Allah memudahkan. []


*) by Dwi Budiyanto http://www.facebook.com/photo.php?fbid=2604680278342&set=a.1486278038985.2066056.1294945041&type=3&theater
18.25 | 0 komentar

Nikmati Jalan Dakwah, Sebagai Apapun atau Tidak Sebagai Apapun Kita


Oleh : Cahyadi Takariawan*

Terlalu sering saya sampaikan, agar kita tidak gagal dalam menikmati jalan dakwah. Dalam berbagai forum dan tulisan, saya selalu mengajak dan mengingatkan, agar kita selalu menjadikan jalan dakwah ini sebagai sesuatu yang kita nikmati. Segala renik yang ada di sepanjang jalannya: suka dan duka, tawa ria dan air mata, kemenangan dan kepedihan, tantangan dan kekuatan, sudahlah, semua itu adalah bagian yang harus bisa kita reguk kenikmatannya.

Di antara doa yang sering saya munajatkan adalah, “Ya Allah, wafatkan aku dalam kondisi mencintai jalan dakwah, dan jangan wafatkan aku dalam kondisi membenci jalan ini.” Tentu saja bersama doa-doa permohonan lainnya. Saya tidak ingin menjadi seseorang yang mengurai kembali ikatan yang telah direkatkan, mengungkit segala yang telah diberikan, dengan perasaan menyesal dan meratapi segala yang pernah terjadi di jalan ini.

Saya merasa bukan siapa-siapa, dan hanya seseorang yang mendapatkan banyak kemuliaan di jalan ini. Mendapatkan banyak saudara, mendapatkan banyak ilmu, memiliki banyak pengalaman, mengkristalkan banyak hikmah, menguatkan berbagai potensi diri, menajamkan mata hati dan mata jiwa. Luar biasa, sebuah jalan yang membawa berkah melimpah. Maka, merugilah mereka yang telah berada di jalan ini tetapi tidak mampu menikmati.


Maka mari kita nikmati jalan dakwah ini, “sebagai apapun” atau “tidak sebagai apapun” kita. Posisi-posisi dalam dakwah ini datang dan pergi. Bisa datang, bisa pergi, bisa kembali lagi, bisa pula tidak pernah kembali. Bisa “iya” bisa “tidak”. Iya menjadi pengurus, pejabat, pemimpin dan semacam itu; atau tidak menjadi pengurus, tidak menjadi pejabat, tidak menjadi pemimpin, tidak menjadi apapun yang bisa disebut.

Kamu siapa ?

“Saya pengurus partai dakwah”. Ini bisa disebut.

“Saya pejabat publik yang diusung oleh partai dakwah”. Ini juga bisa disebut.

“Saya pemimpin organisasi dakwah”. Ini sangat mudah disebut.

“Saya kepala daerah yang dicalonkan dari partai dakwah”. Ini cepat disebut.

Tapi, kamu siapa ?

“Saya orang yang selalu berdakwah. Pagi, siang, sore dan malam. Kelelahan adalah kenikmatan. Perjuangan adalah kemuliaan. Saya bahkan tidak tahu, apa nama diri saya. Karena saya lebih suka memberikan hal terbaik bagi dakwah, daripada mencari definisi saya sebagai apa di jalan ini”.



Ya. Nikmati saja jalan ini. Sebagai apapun, atau tidak sebagai apapun diri kita di jalan dakwah. Jangan gagal menikmati.


12 Oktober 2011

Selesai Rapat di Markaz Dakwah, Simatupang.

*)http://www.pkspiyungan.org/2011/10/nikmati-jalan-dakwah-sebagai-apapun.html
18.17 | 0 komentar

KIPRAH KEWANITAAN

GALLERY FOTO

Cari Artikel di Sini

Counters


Categories