Assalamu Alaikum, Selamat Datang Saudaraku  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?

Strategi Psikologis dalam Forum Dialog Umum

Abbas Hasan As Sisi
Abbas As-Sisi
Terkadang, dalam suatu acara kita dihadapkan pada sesuatu yang mendadak dan mendesak, serta masalah yang tidak ada kesepakatan sebelumnya. Bahkan sebagian hadirin tidak pernah kenal sebelumnya. Suatu ketika —dalam suatu diskusi—, tiba-tiba pembicaraan berkisar tentang da’wah Ikhwanul Muslimin. Saya paparkan beberapa pom seputar pemikiran Al Ikhwanul Muslimun, sejarah, dan hal-hal yang berkaitan dengannya. Setelah ceramah, saya menunggu reaksi para peserta.

Muncullah pertanyaan dari salah seorang peserta, ia mengatakan, “Kita adalah Ikhwan, apa sikap kita terhadap orang-orang yang menghalangi da’wah kita? Saya ingin penjelasan tentang pokok-pokok pemikiran Ikhwan dan sejarahnya sehingga saya dapat membelanya?”

Pada saat yang bersamaan ada peserta lain yang bertanya, “Kalian adalah Ikhwan. Bagaimana kalian menghadapi tantangan, tuduhan, dan rencana musuh-musuh da’wah Islam?”

Dari dua tanggapan tersebut, saya menyadari sekaligus menyimpulkan bahwa penanya pertama telah dibukakan hatinya oleh Allah sehingga merespon dan merasa mantap terhadap da’wah Ikhwan. Sementara penanya kedua masih ragu-ragu dan belum mantap menerima manhaj da’wah Ikhwan, sehingga masih perlu mendapat banyak penjelasan. Maka, langsung saja saya mengarahkan perhatian dan pembicaraan kepada penanya kedua dengan penuh rasa hormat. Saya tidak berusaha membantah dan menghubungkan pertanyaannya dengan penanya pertama. Seandainya saya melakukan hal itu, berarti saya telah membuat jarak secara kejiwaan antara keduanya karena terjadi perbedaan pemikiran/pendapat.

Sebenarnya, secara kejiwaan seseorang itu tidak menyukai orang lain yang tidak sependapat dengannya.
Saya menyadari bahwa menyampaikan da’wah pada sekelompok orang yang mempunyai latar belakang dan tujuan berbeda-beda, kecil kemungkinannya dapat menembus hati dan pikiran mereka, karena jumlahnya yang banyak. Yang terjadi justru munculnya perbedaan pen-dapat dan madzhab. Karena kebiasaan seorang pembicara adalah mempertahankan pendapatnya, baik ber-dalih kepada kebenaran maupun kebatilan, sehingga timbullah perdebatan yang tak bermanfaat.

Akan tetapi da’wah fardiyah adalah menyentuh inti permasalahan dan memberikan kesempatan lebih luas dalam berdialog yang bebas dan tenang atau dalam bahasa da’wah “billati hiya ahsan “, 5ehingga dapat saling tukar pandangan dan adu argumentasi. Da’wah fardiyah merupakan cara untuk saling terbuka, karena terkadang ada pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat diungkap di depan umum.

Seperti tuduhan-tuduhan buruk yang sempat merasuki pikiran generasi muda, yang tidak mengetahui hakikat sebenarnya tentang kondisi politik : Kairo yang dikendalikan oleh musuh-musuh da’wah Islam, yaitu musuh-musuh yang selalu ingin menutup jalan Allah. Namun, Allah berkuasa terhadap utusan-Nya, “Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.” (Yusuf:21)

03.46 | 0 komentar

Ahdaful Musyarokah

Ustadz Hilmi Aminuddin

Sejak awal, musyarokah kita—keterlibatan kita dalam pemerintahan—sama sekali bukan ditujukan untuk kemenangan zhahir saja yang cenderung diisi dengan al-kibr dan al-kibriya’, merasa besar dan sombong.

Kita bermusyarokah untuk mencapai kemenangan sejati, yang didefinisikan oleh Imam Ahmad ibnu Hanbal:

ما لازم الحق قلوبنا

Kemenangan sejati yang paling mendasar dan substansial adalah jika kebenaran tetap bersemayam di hati kita. Tidak terkontaminasi oleh racun-racun kehidupan, tidak tergoda oleh iming-iming apapun bentuknya, yang membuat hati kita diisi oleh nilai-nilai lain selain nilai kebenaran yang bersumber dari Allah SWT.

Kemenangan sejati juga adalah jika kita berhasil menegakkan kedaulatan Allah di dalam diri kita. Berhasil menegakkan kedaulatan Allah di dalam keluarga kita. Berhasil menegakkan kedaulatan Allah di rumah kita, di bangsa kita dan di negeri kita. Sehingga orientasi hidup bangsa kita adalah mardhotllah, ridho Allah semata.

Oleh karena itu pertama-tama yang harus kita pastikan adalah ahdaful musyarokah (tujuan-tujuan musyarokah) kita. Jangan sampai berpesong sedikitpun.

Al-Musyarokah littauhiid wal binaa’ ( المشاركة للتوحيد والبناء )

Musyarokah kita bertujuan untuk berkontribusi dalam mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Berkontribusi untuk membangun bangsa dan negara ini sehingga mencapai kesejahteraan, kejayaan serta kedamaian dengan bangsa-bangsa lain dalam pergaulan internasional. Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Persatuan dan kesatuan bangsa ini jangan sampai dirongrong, dirusak, dicerai-beraikan oleh agenda-agenda yang diprogram dari luar yang menghendaki perpecahan. Kita harus menjadi junudullah (prajurit-prajurit Allah) terdepan dalam mempertahankan persatuan dan kesatuan bangsa dan negeri ini. Karena negeri ini adalah anugerah besar dari Allah—ba’da al-iman, setelah iman—yang harus kita syukuri dengan memberdayakan, menjayakan dan mengunggulkannya. Sehingga mampu memberi kontribusi positif dalam pergaulan antar bangsa dalam kehidupan global.

Al-Musyarokah littaqwiyah wat tatsbit ( المشاركة للتقوية والتثبيت )

Selain mempersatukan dan membangun, berdaya kohesif dan menjadi penerus pembangunan bangsa dan negara ini, musyarokah kita juga harus berkontribusi dalam mewujudkan negara yang kuat dan kokoh. Jangan menjadi negeri yang dilecehkan dan dideskreditkan tetangga-tetangganya. Jangan menjadi negara dan bangsa yang sama sekali tidak diperhitungkan oleh bangsa-bangsa lain, bahkan menjadi beban dalam pergaulan internasional.

Untuk menjadi factor taqwiyah wa tastbit, memperkuat dan mengokohkan kehidupan berbangsa dan bernegara ini, modalnya hanya satu: bersyukur! Negeri ini menghendaki para kader, pemimpin, pejuang, dan mujahid yang pandai bersyukur. Allah sudah memberikan banyak sekali karunia-Nya kepada negeri ini. Namun banyak potensi yang belum terolah, sehingga terbengkalai dan mubadzir. Bahkan banyak potensi yang diekploitasi oleh kekuatan-kekuatan asing. Ini karena kelemahan dan kebodohan kita, terjebak oleh kepentingan-kepentingan pribadi dan kelompok, sehingga kekayaan yang diberikan oleh Allah ini tergadaikan kepada negeri asing dengan amat sangat murah.

Kita harus waspada dan berani mengevaluasi kebijakan-kebijakan lama yang menyiksa bangsa ini. Berani mengevaluasi seluruh produk-produk konstitusi, perundang-undangan, perda-perda, perjanjian-perjanjian dengan luar negeri yang melemahkan bangsa ini, yang menjadikan bangsa ini terpuruk. Kekayaan melimpah ruah, bukan dinikmati oleh rakyat. Tapi hanya dinikmati oleh sekelompok tertentu. Bahkan mengalir setiap hari ke negeri-negeri asing. Bukan dalam kerjasama yang saling menguntungkan. Tapi kerjasama yang timpang yang mengandung unsur pelecehan, penipuan, dan konspirasi kepada bangsa ini. Semua ini harus dihentikan.

Al-Musyarokah lit taghyiir wat tajdiid ( المشاركة للتغيير و التجديد )

Kita tidak ingin bangsa ini statis, jumud dan mandeg. Oleh karena itu tujuan musyarokah kita yang ketiga adalah al-musyarokah lit taghyiir wat tajdiid. Musyarokah kita, kontribusi kita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara adalah melakukan perubahan dan pembaharuan.

Setiap hari Allah SWT memberikan pelajaran kepada kita bagaimana ciptaan-ciptaannya selalu berubah dan memperbaharui diri. Selalu tumbuh dan berkembang. Lahirnya seorang anak dimulai dengan jeritan tangis yang merupakan symbol kehidupan dan mulai berfungsinya organ-organ utama tubuh, terutama paru-paru dan jantung. Mula-mula matapun tidak bisa melihat, tulang-tulangnya lembek dan lemah. Tapi dari hari ke hari kita lihat matanya semakin berbinar terang. Pertama-tama yang ia tahu hanya ibunya. Kemudian akhirnya mulai bisa tahu ayahnya. Berkembang mulai bisa membedakan warna dan ukuran-ukuran. Bahkan membedakan manfaat-manfaat. Dan mulai bisa membedakan mana yang berbahaya dan mana yang tidak.

Kita lihat pertumbuhan biji-bijian. Biji-biji mulai terbelah merekah, memunculkan tumbuhan kecil. Lalu akarnya menghunjam ke tanah secara bertahap. Sementara batang pohonnya mulai tumbuh berkembang. Berdahan rindang, berdaun hijau, akhirnya berbuah menjadi bermanfaat. Seluruhnya adalah merupakan at-taghyiir wat tajdiid.

Daun-daun yang sudah tua, menguning dan rontok. Tumbuhlah daun-daun muda berkembang menghijau. At-taghyiir wat tajdiid adalah sunnatullah. Kalau bangsa ini tidak mau berubah, statis, dan mandeg, berarti bangsa ini melawan sunnatullah. Kita kader-kader dakwah harus mendorong agar bangsa ini mengikuti sunnatullah. Mengikuti fitrahnya yaitu fitrah perubahan dan pembaharuan.

Semuanya harus berubah, mustahil tidak berubah. Jika tidak mau berubah, dia akan menjadi korban perubahan. Akan digilas oleh perubahan. Makanya kalau kita tidak mau menjadi korban perubahan, kita harus menjadi pelopor perubahan dan pembaharuan.

Semangat perubahan dan pembaharuan adalah bagian penting dari gerakan dakwah. Dari sejak awal dalam manhaj takwiniyah kita tekankan bahwa harakatud dakwah (gerakan dakwah) adalah harakatut taghyiir (gerakan perubahan) dan harakatut tajdiid (gerakan pembaharuan). Kader-kader dakwah harus menjadi :

رُوْحٌ جَدِيْدَةٌ تَسْرِي فِي جَسَدِ الأُمَّةِ

Menjadi jiwa, semangat, moral baru, dan kekuatan baru yang mengalir di tubuh umat ini. Kita harus menjadi innovator perubahan dan pembaharuan di segala sector kehidupan. Jangan sampai bangsa ini tertinggal akibat segan berubah karena malas. Atau bahkan takut berubah, akibat mempertahankan kepentingan-kepentingan pribadi atau kepentingan-kepentingan kelompok/golongan. Karena perubahan dan pembaharuan berarti dinamisasi. Perubahan dan pembaharuan berarti repositioning segenap potensi bangsa.

Dengan musyarokah ini kita melakukan redinamisasi repositioning kita; politik, social, financial, budaya, sains dan teknologi. Kita harus mencapai posisi-posisi baru yang lebih maju, berdaya guna, dan berdaya saing. Juga lebih memberikan manfaat, bukan saja kepada bangsa ini, tapi juga bermanfaat kepada kemanusiaan. Karena bangsa muslim ini mengemban misi utama rahmatan lil’alamin.

Al-Musyarokah lil ishlah wal ihsan ( المشاركة للإصلاح والإحسان )

Karena kita mengemban misi rahmatan lil’alamin, maka musyarokah pun tujuannya adalah berkontribusi untuk selalu ishlah (melakukan reformasi). Ishlah berarti perbaikan dan selalu mengajak damai.

Musyarokah lil ishlah wal ihsan baru bisa kita gulirkan, kalau kita professional. Mempunyai kafaah muntijah (kesalehan kompetensi dan kemampuan produktif ) dan kafaah ijaabiyah (potensi dan kompentensi yang positif).

Kader-kader kita harus menjadi kader-kader unggulan di tengah-tengah pergaulan kehidupan berbangsa dan bernegara. Tafawwuq ma’nawiy berbasiskan tafawwuq iimaniiy, keunggulan moral berbasiskan keunggulan iman. Tafawwuq fikri berbasiskan tafawwuq ‘ilmi, keunggulan idealisme berdasarkan keunggulan penguasaan terhadap ilmu pengetahuan. Begitu juga tafawwuq ‘amaliy berdasarkan tafawwuq manhajiy, keunggulan dalam aktivitas berdasarkan keunggulan metode kerja. Sehingga seluruh lapisan masyarakat mendapatkan sentuhan ishlah wal ihsan dari kita. Seluruh lapisan masyarakat, segenap komponen bangsa, lintas partai, lintas ormas, lintas agama, lintas keyakinan, lintas suku, lintas pulau-pulau yang bertebaran beribu-ribu ini merasakan khuthuwat ishlahiyah dan khuthuwaat ihsaniyah kita.

Al-Musyarokah lit taqwiim wat tasydiid ( المشاركة للتقويم والتسديد )

Musyarokah kita bertujuan untuk berkontribusi dalam meluruskan dan mengakuratkan tujuan hidup dan perjuangan bangsa ini. Agar bangsa ini tidak menyimpang dari tujuan utamanya.

Allah memerintahkan kepada kita agar kita lurus, sesuai dengan fitrah diciptakannya.

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَعْلَمُونَ (الروم : ٣٠

Tidak ada bangsa atau umat atau bahkan makhluk yang bisa hidup baik, tenang, tentram dan sejahtera kecuali harus lurus dalam fitrahnya. Nilai-nilai fitrah ini adalah nilai-nilai kemanusiaan yang universal. Al-Qur’an mengokohkannya dengan nilai-nilai syar’iyyah.

Sebagai kader dakwah kita harus selalu waspada terhadap kemungkinan berbagai penyimpangan, penyimpangan diri dan penyimpangan di tengah-tengah umat dan bangsa ini. Kita harus menjadi unsur muqawwim (yang meluruskan) wat tasdiid (mengarahkan) agar bangsa ini jangan disorientasi.

Seluruh kader dakwah ini harus berusaha dan mampu mengkonsolidasi, mengkoordinasi, dan memobilisasi seluruh potensi positif konstruktif di dalam bangsa ini. Siapapun mereka, partai apapun mereka, ormas apapun mereka dan agama apapun mereka, suku bangsa apapun mereka. Penghuni pulau manapun mereka. Kita harus mampu melihat potensi positif dan konstruktif untuk membangun bangsa ini mencapai kesejahteraan, kedamaian dan kejayaannya.

Selain itu kita harus selalu berupaya untuk mempersempit ruang gerak, perilaku, dan peran potensi negative destruktif. Agar kehidupan berbangsa dan bernegara ini tidak terprovokasi, terpecah belah, terlemahkan, terkecoh , tergadaikan, bahkan terjual oleh potensi negative destruktif itu. Sehingga kehidupan bangsa kita tetap bersatu, damai, tentram dan bersemangat untuk kerja keras mencapai tujuan-tujuan nasional, yaitu menjadi bangsa dan Negara yang diridhai oleh Allah SWT.

Sejak awal, ikhwan dan akhwat digembleng diantaranya untuk misi amar ma’ruf nahi munkar. Dalam musyarokah lit taqwiim wat tasdiid inilah peran amar ma’ruf nahi munkar harus dilakukan dimanapun antum berada. Apakah di lembaga legislative, lembaga eksekutif atau yudikatif. Dalam mengelola jama’ah, kehidupan bermasyarakat, lembaga-lembaga social, pendidikan, kebudayaan, dan perekonomian. Tetap taqwim dan tasdiid adalah merupakan refleksi dari misi amar ma’ruf nahi munkar kita.


*)http://al-intima.com/taujih-ust-hilmi-aminuddin/ahdaful-musyarokah
23.38 | 0 komentar

Ramadhan dan "Penampakan"

Dalam satu sesi kajian menjelang Ramadhan, ada seorang yang menyampaikan pertanyaan menarik. "Ustad, katanya di Ramadhan semua setan dibelenggu? Berarti tidak ada lagi penampakan di bulan Ramadhan?" tanya orang itu. Lebih lanjut ia kembali bertanya, "Kalau betul setan dibelenggu, seharusnya tidak ada lagi yang berbuat maksiat. Lalu kenapa masih ada saja praktik-praktik maksiat selama Ramadhan?"

Pertanyaan ini mungkin mewakili keingintahuan kita terhadap sebuah hadis Rasulullah, "Apabila telah masuk bulan Ramadhan, dibukalah pintu-pintu langit, ditutuplah pintu-pintu neraka dan setan-setan dibelenggu". Apakah benar hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim ini mengandung makna denotasi? Apakah setan memang benar-benar dibelenggu? Atau sekedar makna kiasan? Sementara maksud yang sebenarnya bukan terbelenggunya setan.

Imam Ibnu Kuzaimah, seorang ulama hadis pernah memberikan pendapatnya mengenai hadis ini. Menurut Khuzaimah tidak semua setan yang dibelenggu. Tapi jenis yang jahat dari kalangan jin. Untuk mendukung pendapatnya, Khuzaimah kemudian menukil sebuah hadis Rasulullah, "Apabila telah datang malam pertama Ramadhan, dibelenggulah setan dan jenis yang jahat dari kalangan jin, ditutup pintu-pintu neraka dan tidak pernah dibuka selama Ramadhan. Begitu pula pintu surga selalu dibuka dan tidak pernah ditutup." (HR. Baihaqi, Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah).

Di pihak lain, pensyarah kitab shahih Bukhari, Imam Ibnu Hajar Al-Asqalany yang mendapat julukan sebagai Amirul Mu'minin di bidang hadis mengatakan bahwa maksud setan dibelenggu bisa mengandung dua makna. Makna denotasi sebagaimana pendapat Khuzaimah. Atau makna konotasi yang berarti setan tidak mampu lagi menggoda manusia di bulan Ramadhan karena mereka khusyu' dengan ibadah puasa yang membelenggu syahwat.

Pendapat para ulama di atas membolehkan kita memaknai setan yang dibelenggu dengan makna denotasi dan konotasi. Denotasi berarti jenis yang jahat, yang selalu menggoda manusia dari kalangan jin dibelenggu dan tidak bebas berkeliaran. Itu juga berarti tidak ada penampakan di bulan Ramadhan. Kalaupun ada, berarti yang tampak adalah jin yang baik.

Sementara konotasi berarti pintu utama setan dalam menggoda manusia yaitu syahwat telah terbelenggu dengan ibadah puasa.

Lalu bagaimana maksiat yang masih terjadi di bulan Ramadhan? Imam Qurthubi seorang ahli tafsir yang menjawabnya. Kata Qurthubi, maksiat yang terjadi di bulan Ramadhan memiliki sebab lain di luar gangguan setan dari kalangan jin. Sebab itu seperti jiwa yang memang buruk, atau karena kebiasaan yang tidak bisa dirubah. Atau karena setan dari kalangan manusia.

Sebab setan dalam bahasa Arab berarti sesuatu yang buruk. Sesuatu yang buruk itu bisa muncul dari kalangan jin dan manusia. Dalam ayat yang biasa dibaca para Imam di akhir rakaat witir, "...Dari kejahatan bisikan setan yang bersembunyi, yang membisikkan kejahatan ke dalam dada manusia, (setan) dari golongan jin dan manusia" (Q.S.: An-Nâs: 4-6).

00.13 | 0 komentar

Tujuh Karakter Kader dalam Menghadapi Realitas Medan Dakwah

Disarikan dari berbagai taujih, oleh Cahyadi Takariawan

gambar : Google
gambar : Google
Dakwah di tengah kehidupan masyarakat pasti akan berhadapan dengan sejumlah kendala, tantangan, hambatan dan bahkan ancaman. Apalagi ketika dakwah sudah memasuki wilayah kelembagaan politik dan kenegaraan, akan lebih banyak lagi tantangan yang harus dihadapi. Para kader dakwah harus memiliki karakter yang kuat agar bisa mensikapi berbagai tantangan tersebut dengan tegar.

Paling tidak, kader dakwah diharapkan memiliki tujuh karakter berikut ini, agar bisa tegar menghadapi realitas medan dakwah yang kadang terasa sangat keras perbenturannya.

Pertama, atsbatu mauqifan, kader dakwah harus menjadi orang yang paling teguh pendirian dan paling kokoh sikapnya. At-Tsabat (keteguhan) adalah tsamratus shabr (buah dari kesabaran). Sebagaimana firman Allah, “Famaa wahanuu lima ashabahum fii sabiilillahi wamaa dha’ufu wamastakanu”. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak pula menyerah, dan Allah menyukai orang-orang yang sabar. Keteguhan itu membuat tenang, rasional, obyektif dan mendatangkan kepercayaan Allah untuk memberikan kemenangan.

Kedua, arhabu shadran, kader dakwah harus menjadi orang yang paling berlapang dada. Medan dakwah sering kali membuat hati sempit. Banyak kata-kata ejekan, cemoohan, caci maki, sumpah serapah yang terlontar begitu saja dari banyak kalangan. Kader dakwah tidak boleh bersempit hati dan sesak dada karena caci maki orang dan karena berita-berita di media massa yang sering kali mendiskreditkan tanpa konfirmasi dan pertanggungjawaban.

Ketiga, a’maqu fikran, kader dakwah harus menjadi orang yang memiliki pemikiran paling mendalam. Kader haru selalu berusaha mendalami apa yang terjadi, tidak terlarut pada fenomena permukaan, tetapi lihatlah ada apa hakikat di balik fenomena tersebut. Jika pemikiran kader bisa mendalam, ketika merespon pun akan lebih obyektif, terukur, dan seimbang.

Keempat, ausa’u nazharan, kader dakwah harus menjadi orang yang memiliki pandangan luas. Cakrawala pandangan kader dakwah harus terus menerus diperluas, agar tidak mengalami gejala kesempitan cara pandang. Membaca realitas dengan pandangan yang luas akan membawa kader kepada sikap adil dan moderat. Todak terjebak kepada sikap-sikap ekstrim dan berlebih-lebihan.

Kelima, ansyathu amalan, kader dakwah harus menjadi orang yang orang yang paling giat dalam bekerja. Kader dakwah tidak boleh disibukkan dengan membantah isu-isu, atau mengcounter suara-suara negatif, karena itu tidak banyak membawa produktivitas. Yang lebih produktif adalah selalu bekerja di tengah masyarakat. Tunjukkan kerja nyata. Jika ada yang perlu direspon, boleh direspon sesuai kebutuhan, namun tetap harus giat bekerja untuk kebaikan masyarakat, bangsa dan negara.

Keenam, ashlabu tanzhiman kader dakwah harus memiliki gerakan yang paling kokoh strukturnya. Sebagai jama’ah kumpulan manusia, pasti ada kekurangan dan kesalahan. Namun kewajiban kita adalah terus berusaha menghindarkan diri dari kesalahan dan kelemahan, sambil terus berbenah. Struktru dakwah harus terus menerus dikokohkan dari pusat, wilayah, daerah, cabang hingga ke ranting. Jangan biarkan ada celah yang bisa digunakan untuk melemahkan struktur dakwah.

Ketujuh, aktsaru naf’an, kader dakwah harus menjadi orang yang paling banyak manfaatnya. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain. Kader dakwah harus membuktikan bahwa keberadaan mereka di tengah kehidupan masyarakat memberikan banyak kontribusi kebikan. Tidak  merugikan atau membuat keonaran, namun justru memberikan banyak kemanfaatan dan kebaikan.
Jika tujuh karakter itu dimiliki oleh para kader dakwah, niscaya lebih ringan dan mudah menghadapi tantangan dan hambatan di sepanjang jalan dakwah. Kader dakwah dan seluruh aktivitas dakwah akan semakin kokoh dan diterima masyarakat, dalam menghadirkan berbagai kebajikan yang diharapkan oleh umat, bangsa dan negara.
23.52 | 0 komentar

8 Rakaat atau 20?

Setidaknya ada lima pendapat dari ulama kita mengenai jumlah rakaat Tarawih. Pertama 8 rakaat ditambah 3 rakaat witir. Kedua 10 rakaat ditambah 3. Ketiga 20 rakaat dan 3 witir. Keempat 36 ditambah 3, 5 atau 7 witir. Terakhir adalah 40 rakaat Tarawih ditambah 3 atau 7 rakaat witir.

Jumlah 8 rakaat berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari Aisyah, istri Rasulullah.

Menurutnya Rasulullah selalu melaksanakan Qiyamullail sebanyak 8 rakaat ditambah 3 rakaat witir baik di Ramadhan maupun di luar Ramadhan. Jumlah 8 rakaat ini juga memiliki dua versi. Versi pertama jumlah 8 rakaat itu dibagi ke dalam dua-dua rakaat. Versi kedua dibagi menjadi empat-empat rakaat.

Adapun 13 rakaat bersama witir adalah saat Rasulullah salat di rumah bibinya Maimunah. Dalam riwayat Bukhari disebutkan bahwa Rasulullah salat 13 rakaat di waktu malam kemudian tidur. Setelah azan Subuh berkumandang, ia salat dua rakaat yang ringan lalu salat Subuh. Terhadap jumlah 13 rakaat ini, sebagian Ulama seperti Imam Bukhari dalam riwayat yang lain mengatakan bahwa maksudnya adalah 11 rakaat Tarawih dan witir ditambah 2 rakaat Sunnah sebelum salat Subuh. Pendapat Bukhari ini pula yang dipilih oleh Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah.
Selanjutnya Imam Malik yang meriwayatkan dari Yazid bin Ruman bahwa masyarakat muslim di zaman Umar bin Khattab melaksanakan salat Tarawih sebanyak 20 rakaat ditambah 3 rakaat witir. Menurut Imam Malik, Umar melaksanakan Salat Tarawih ini ketika para sahabat dari golongan Muhajirin dan Anshar masih banyak yang hidup. Mereka tidak membantah apa yang dilakukan oleh Umar sehingga bisa dikatakan jumlah 20 rakaat disunnahkan berdasarkan ijma para sahabat. Dalam riwayat Yazid bin Hushaifah di Kitab Sunan Baihaqi juga disebutkan jumlah rakaat yang sama.

Saat Umar bin Abdul Azis menjadi Khalifah, jumlahnya semakin bertambah. Tarawih mencapai angka 36 rakaat sementara witirnya bisa 3, 5 atau 7 rakaat. Imam Syafi'i mengatakan bahwa ia melihat umat Islam di zamannya melaksanakan salat Tarawih di Madinah sebanyak 36 rakaat sementara di mekkah sebanyak 20 rakaat. Imam Syafi'i lalu menambahkan bahwa tidak ada masalah terkait dengan jumlah rakaat Tarawih. Sebab pada intinya salat Tarawih itu adalah sunnah yang tidak ada batasan jumlah rakaatnya. Imam Malik juga sependapat dengan Imam Syafi'i. Menurut Imam Malik jumlah 36 rakaat itu adalah kebiasaan yang dilakukan oleh penduduk Madinah.

Dalam kitab Fathul Bary (Syarah Kitab Sahih Bukhari) Imam Ibnu Hajar bahkan menyebut bahwa sebagian generasi salaf ada yang melaksanakan salat Tarawih sebanyak 40 rakaat. Lalu bagaimana kita bersikap terhadap jumlah rakaat yang bervariasi ini? 

Mari kita tanya kepada Imam Ibnu Taimiyah, seorang ulama yang sangat ketat terhadap bid'ah dan selalu berorientasi sunnah. Menurutnya semua rakaat tarawih tetap baik. Tidak ada jumlah yang pasti mengenai Tarawih di bulan Ramadhan. Karena Rasulullah juga tidak membatasinya.

Maka memilih jumlah yang terbaik adalah disesuaikan dengan kondisi makmum. Bila mereka kuat berdiri maka dipilih 8 rakaat sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah. Bila mereka tidak kuat maka dilaksanakan 20 rakaat. Ubay bin Ka'ab di zaman Umar juga melaksanakan 20 rakaat karena makmum tidak mampu berdiri terlalu lama. Melaksanakan 40 rakaat Tarawih juga dibolehkan. Sebab Tarawih adalah salat sunat yang tidak dibatasi jumlahnya.

Di akhir fatwanya tentang Tarawih, Ibnu Taimiyah mengatakan, "Barangsiapa yang mengira bahwa Tarawih itu ada jumlah rakaat tertentu dari Nabi Muhammad Saw maka sesungguhnya ia telah salah."

23.33 | 0 komentar

KIPRAH KEWANITAAN

GALLERY FOTO

Cari Artikel di Sini

Counters


Categories