Assalamu Alaikum, Selamat Datang Saudaraku  welcome  |  sign in  |  registered now  |  need help ?
Tampilkan postingan dengan label Album Kita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Album Kita. Tampilkan semua postingan

MSI: Berkhidmat Adalah Gen Kader PKS

Presiden PKS Sohibul Iman menegaskan bahwa (semangat) berkhidmat adalah gen PKS. Ia sudah menjadi bagian inhern dalam diri kader PKS selama ini. Dimulai sejak gerakan dakwah ini belum menjadi partai belasan tahun yang lalu. Hal ini Sohibul Iman sampaikan dalam arahannya di Rakorwil DPW PKS Riau di Aula hotel Mutiara Merdeka Pekanbaru, Ahad (14/2) siang.

Kerja kerja kader PKS selama ini menunjukkan hal itu. "Dakwah yang telah kita lakukan selama ini dan pelayanan kepada masyarakat yang telah lama kita lakukan menunjukkan hal itu," ujar pria yang juga dikenal dengan MSI ini.

MSI juga mengatakan bahwa berkhidmat kepada masyarakat bukanlah hal baru bagi kader PKS. "Mari berkhidmat kepada masyarakat dan bangsa ini setiap saat, sepanjang hayat," ajak MSI yang disambut takbir sekitar seribu kader yang memadati aula.

MSI juga menjelaskan bahwa ada tiga dimensi dalam berkhidmat. Yaitu pelayanan, pemberdayaan dan advokasi (pembelaan). Yang terakhir adalah khidmat paling optimal dan bisa dilakukan PKS sebagai parpol.

Keterangan Foto: Presiden PKS Sohibul Iman
 sumber
08.37 | 0 komentar

Habib Salim Segaf al-Jufri: Kita Ini Dai, Bukan Hakim!

Maraknya kelompok yang mengaku paling benar dan menyalahkan orang lain merupakan fenomena yang sangat memprihatinkan di negeri ini. Diperparah dengan munculnya banyak aliran sesat yang menghina sahabat Nabi, memunculkan Nabi baru, dan lain sebagainya.

Keprihatinan inilah yang melatarbelakangi Dr Habib Salim Segaf al-Jufri untuk angkat bicara. Dengan nada yang santun dan menyejukkan hati, beliau menyampaikan ceramah singkat tentang tugas kita yang utama; sebagai dai, bukan hakim!

Berikut transkripnya sebagaimana dirilis oleh AlimanCenter.TV
“Saya sudah menjelaskan, nahnu du’atun la qudhatun, antum (Anda) itu sebagai dai, bukan hakim yang mengadili masyarakat.

Jadi, paham ya?

Dai itu kerjanya apa? Mengajak. Kalau ada yang sesat, diajak. Itu namanya dai. Tapi kalau kita sudah memposisikan sebagai hakim, itu persoalannya sudah berbeda.

Kalau posisi hakim ini, “Ini kafir. Ini musyrik. Ini fil jannah (masuk ke dalam surga). Ini fi jahannam (masuk ke dalam neraka jahannam).” Itu namanya qadhi, hakim.

Tapi antum sebagai dai. Ud’u sabili rabbika (ajaklah ke jalan Rabbmu). Kalau yang kurang paham, ya dialog, diajak.

Kalau menjelek-jelekkan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu? Saya sudah jelaskan. (Menjelek-jelekkan sesama) muslim saja sudah gak benar, apalagi (menjelek-jelekkan) sahabat Nabi!

Kalau sudah menjelek-jelekkan itu, dia sudah memposisikan sebagai apa? Dai atau hakim?
Antum bisa menjawab gak? Kalau menjelek-jelekkan, mengatakan ini-itu, dia hakim atau dai? Dia hakim.

Kerja dai itu berbeda. Kerja dai itu mengajak. Meluruskan. Yang sesat diajak dengan cara yang bagus. Masalah nanti dapat hidayah atau tidak dapat hidayah, itu urusan lain. Bukan di tangan kita.
Tapi yang penting, negara juga hadir. Ini penting juga. Negara itu harus hadir.

Adanya agama untuk membuat masyarakat menjadi tenang. Saya berharap, di setiap agama ada lembaga yang menjadi reference, rujukan.

Kita di Indonesia ada sekian banyak agama. Nanti kan muncul, agama ini, agama itu. Nah, (kalau ada rujukannya bisa dilihat) benar gak agama tersebut?

Sebab ada juga di daerah-daerah, orang shalat tidak membaca bismillah, tapi menggunakan terjemahan. Ada juga kan? Pernah dengar kan?

(Lalu) muncul atau ada Nabi baru, atau ada ini (ajaran) baru. Di sinilah negara harus hadir.
Di situ pentingnya (kehadiran negara). Ulama pun mempunyai rujukan, apakah MUI (Majlis Ulama Indonesia), atau apa, yang menjadi rujukan; mana yang benar dan mana yang tidak benar.

Tetapi sebagai orang umum, sebagai masyarakat, nahnu du’atun la qudhatun; kita itu dai, bukan hakim.”

Wallahu a’lam. [Pirman/BersamaDakwah]
06.05 | 0 komentar

Mereka,, yang " Berkhidmat Untuk Rakyat " ( Poso)

Dewan Pengurus Daerah Partai Keadilan Sejahtera Kab. Poso baru-baru ini menyelesaikan RAKERDA dalam upaya merancang Strategi Pemenangan satu tahun kedepan yang biasa di Istilahkan RKT ( Renacana Kerja Tahunan ), dalam kesempatan ini di hadiri oleh Bapak. Ir. T. Samsuri, M.Si selaku wakil bupati terpilih dalam pilkada serentak yang juga merupakan salah satu kandidat yang di usung oleh PKS Poso,,,,

Adapun yang membuka acara adalah Ust. Muhammad Wahyudin selaku wakil Ketua Umum DPW PKS Sulteng, dalam sambutannya lebih menitik beratkan pada konsolidasi kader dalam upaya memperkuat basis-basis di masyarakat dan pencapaian target pemenangan secara Nasional,,,,

Pada kesempatan itu pula di  lakukan Pelantikan Pengurus baru DPD PKS Kab. Poso Masa Khidmat 2015 - 2020, adapun Susunan Pengurus Sbb :






STRUKTUR KEPENGURUSAN
PARTAI KEADILAN SEJAHTERA KABUPATEN POSO
PERIODE 2015 – 2020



1.      Ketua Umum              : H.Usman Abdul Karim
2.      Wakil Ketua                : Arianto Ruslan
3.      Sekretaris Umum        : Muhammad Zakaria Laasi
4.      Wakil Sekretaris          : H.Arsyad Abdullah, BcHK
5.      Bendahara Umum       : Lisdawati

6.      Bidang Kaderisasi
          Ketua                    : Zainal Arifin
Sekretaris              : Tuti Utami, S.Pd


7.      Bidang Perempuan dan Ketahanan Keluarga
         Ketua                    : Siti Rahmawati 
Sekretaris              : Marlia Lamusu
Anggota                  Nana Ardiana
                      
8.      Bidang Kepemudaan
           Ketua                    : Ari Junaedi

9.      Bidang Politik Hukam dan Keamanan
       Ketua                    : Drs.H.Amir Kusa
          Sekretaris              : Nuraini Yuta            
           Bagian Pemberdayaan Jaringan Usaha dan Ekonomi Kader
       Ketua                    : Tugino Tigin Harianto

       Bagian Kesejahteraan Rakyat
 Ketua                    : Fauziah, S.Pd

Selamat menjalankan Amanah dalam upaya Berkhidmat untuk Rakyat 
  

01.48 | 1 komentar

Doktrinasi PMII Tentang Infiltrasi, Malah Sudah Diterapkan PKS

Berita mengenai '18 PCNU Dipimpin Orang PKS' membuat miris beberapa kader PKS. Lantaran PKS ternyata dipersepsikan sebagai gerakan atau partai menyimpang (sesat) oleh Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB IKAPMII), Akhmad Muqowam.

PKS dianggap tidak se-aqidah dengan NU, ini merupakan jelas pernyataan pengkafiran oleh Akhmad Muqowam. Anggapan PKS menodai Aqidah NU, adalah tidak sesuai dengan prinsip NU yang tidak mudah mengkafirkan orang lain.

NU saja jika berkumpul dengan orang kafir, tidak pernah menyebut mereka secara gamblang sebagai seorang kafir. Tetapi Akhmad Muqowam dengan gamblangnya menyatakan PKS menodai Aqidah NU. Aqidah NU tentu saja Islam, jika PKS menodai Aqidah NU, tentu PKS menodai agama Islam. Ini tentu tidak sesuai dengan syi'irnya Gus Dur sering diperdengarkan dimasjid-masjid:

duh bolo  konco priyo wanito
ojo mung ngaji syareat bloko
gur pinter dongeng nulis lan moco
tembe burine bakal sangsoro

akeh kang apal quran hadise
seneng ngafirke marang liyane
kafire dewe dak digatekke
yen isih kotor ati akal

Syi'ir Gus Dur ini seringkali didengarkan kepada warga NU, untuk mengingatkan agar tidak hanya sekedar belajar ilmu Syari'at saja, dan hanya pinter dongeng juga menulis dan membaca, yang belakangannya bakal bisa sengsara.

Banyak orang hafal Al Quran dan Hadits, senang mengkafirkan orang lainnya, kafirnya sendiri tidak diperlihatkan, juga masih kotor hati dan akal.

Mungkin karena sudah terlalu 'Ngelontok' (mengelupas) syi'ir itu, sehingga Akhmad Muqowam sampai 'Protol kabeh' (lepas semua) tak ingat mengenai makna sesungguhnya. Ataukah Syi'ir itu hanya diperuntukkan untuk dirinya sendiri, sehingga 'kafire dewe dak digatekke'.

Perbedaan Infiltrasi PKS dan PMII

Siapa yang menyangkal bahwa dalam setiap aktivis PMII diharuskan untuk melakukan berbagai infiltrasi pada setiap elemen dan organsiasi? Karena ini telah menjadi doktrin pertama kali ketika melakukan pengkaderan awal MAPABA (Masa Penerimaan Anggota Baru) sahabat PMII. Hal ini saya (red, penulis) ketahui saat tahun 2002-2003 bergabung dengan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).

Setiap aktivis PMII diminta agar melakukan berbagai aktivitas infiltrasi guna untuk masa depan PMII. Hal ini diperuntukkan agar setiap pengambilan keputusan nantinya, hanya orang-orang yang pernah menjadi aktivis PMII saja pemegangnya.

Infiltrasi yang dilakukan oleh aktivis PMII lebih bersifat pragmatis untuk kemajuan PMII semata-mata. Hal yang dititik beratkan adalah, dengan berbagai infiltrasi tersebut nantinya di inginkan terjadi penyeimbang bagi yang tidak suka dengan aktivitas PMII. Ini biasa disebut, sekedar menerapkan cara opportunisme.

Siapa yang menyangkal bahwa PMII juga menganggap dirinya sebagai anak nakal NU? Tidak bagi aktivis PMII sebagaimana Deklarasi Murnajati 14 Juli 1972, PMII menyatakan sikap independen dari lembaga NU. Aktivis PMII juga menganggap dirinya anak nakal terhadap NU karena juga banyak aqidah aktivis PMII yang nyeleneh. Mulai dari yang tak bercaya tuhan, sekuler, liberal, dll. Pemahaman ini bisa dengan bebas masuk kedalam PMII. Karena itu dalam beberapa diskusi aktivis PMII dulu, seringkali ada kelakar 'Kita kan PMII, yaitu Pergerakan Mahasiswa Insya Allah Islam'.

Sebagaimana saat Ramadhan tiba, tentu umat Islam berpuasa. Tetapi bagi sebagian aktivis PMII, berpuasa itu hanya yang dilarang makan dan minum, tidak ada larangan merokok. Karena itu beberapa kali di sekretariat PMII kami dulu tak jarang asap rokok itu berkebul mengisi ruangan, pun disaat puasa bulan Ramadhan.

Karena itu jangan heran dari beberapa tokoh NU juga sebenarnya ada yang khawatir PMII yang jelas sekali kenyelenehan aqidahnya. Tetapi bagi aktivis PMII, kenyelenehan aqidah mereka anggap hanya sebagai proses.

Hal yang sama ketika terjadi pergantian pucuk kepemimpinan. Jangan anggap hanya sekedar debat hebat, cara melempar bangku ataupun meja dan apapun juga bakal terjadi. Ketika mereka tidak setuju dan argumentasi mereka sudah habis, maka tak jarang ada yang marah-marah. Hingga berakhir ricuh, hal ini pernah saya (red, penulis) alami juga.

Tetapi walaupun terjadi seperti itu, jangan anggap hal tersebut adalah sebuah cara yang tidak wajar. Ini mereka anggap sebagai cara yang wajar, karena mereka juga menganggap cara seperti itu adalah cara proses demokrasi. Miris!

Tetapi meskipun terjadi perdebatan hebat dan berbagai cara anarkisme lainnya, ketika semua itu selesai, hebatnya para sahabat-sahabat PMII langsung kembali merapatkan barisannya. Tak lagi ada pertikaian, karena itu tujuan mereka adalah untuk membesarkan PMII. Dengan melakukan infiltrasi kemana-mana tujuannya cuma membesarkan nama PMII. Bukan NU!

Karena itu, jangan heran jika ada lembaga-lembaga NU yang banyak digeser oleh aktivis-aktivis PMII. Hal ini semata-mata hanya untuk sekedar melakukan infiltrasi guna membesarkan PMII.

Ini sungguh lucu jika Ketua Umum PB IKAPMII, Akhwad Muqowam membuat isu baru untuk membenturkan NU dan PKS. Apakah lantaran Infiltrasi dari PMII kalah dengan infiltrasi kader PKS?

Berbeda dengan Infiltrasi PKS dengan PMII. Kader PKS yang memang berbasis NU, diminta untuk membesarkan nama organisasinya dan tidak boleh membawa nama partai. Sebagaimana kader PKS yang berbasis Muhammadiyah, Al Irsyad, Wahdah islamiyah, dll. Mereka diminta untuk mengelola dengan baik serta amanah dan ikhlas, tanpa menunjuk-nunjukkan ke PKS-annya. Ini sudah intruksi dari DPP untuk bekerja dengan sebaik-baiknya dimanapun kader PKS berada, dan tidak boleh membawa nama partai jika bukan kegiatan kepartaian.

Jika dianggap saya (red, penulis) adalah mantan aktivis PMII yang melakukan infiltrasi pada PKS. Bisa juga dianggap seperti itu, tetapi infiltrasi ini malah membawa saya semakin tahu seluk beluk PKS untuk bekerja dengan ikhlas dimanapun kita berada.

PKS dipersepsikan sebagai gerakan ormas Islam baru dengan madzhab yang baru pula. Ini sebuah propaganda pembusukan PKS yang sudah dilakukan bertahun-tahun lalu, dan terus berulang-ulang. Kader PKS yang NU juga banyak, kader PKS yang Muhammadiyah juga banyak, pun di ormas Islam lainnya.

Saya sebelum masuk menjadi kader PKS, pernah beberapa kali melakukan diskusi yang panjang dengan beberapa aktivis PMII tentang PKS. Dan tidak sedikit yang merasa mempunyai data-data bahwa PKS itu hanya bentukan Soeharto, PKS adalah Wahabi, PKS adalah...

Tetapi ketika diminta agar membuktikan apa yang ia utarakan mengenai sisi negatif PKS, aktivis PMII masih terus menghindar. Hingga bertahun-tahun, sampai saat ini pula. Ini yang memantapkan saya (red, penulis) untuk semakin berfikir bahwa sebenarnya PKS hanya dijadikan sebagai korban propaganda pembusukan semata. Karena hingga saat ini, bagi orang yang berfikiran sehat jika diperlihatkan bukti-bukti palsu tentu akan langsung mengetahuinya. Inilah yang membuat saya (red, penulis) semakin simpati terhadap PKS.

PKS bukan ormas Islam ataupun menerapkan madzab baru, tetapi PKS adalah partai Islam yang berusaha untuk menyatukan kekuatan umat Islam. Karena itu, jangan heran di PKS yang kader NU tidak pernah ada larangan untuk melakukan tradisi ke-NU-an, pun demikian kader PKS yang Muhamamdiyah tidak dilarang untuk memahami Kemuhammadiyahannya dengan sebaik-baiknya. Juga dari ormas Islam lainnya dan bahkan agama non Islam lainnya.

Tetapi ketika berada dalam PKS, semua itu lebur. Tidak ada perdebatan antar madzhab atau pun khilafiyah, ikhtilaf dan furu'iyah. Setiap kader PKS diwajibkan saling memahami perbedaan madzhab dalam Islam, perbedaan khilafiyah, ikhtilaf dan furu'iyah para ulama.

Karena itu, kader PKS 'diharamkan' untuk membahas masalah-masalah yang sensitif dalam perbedaan madzhab, khilafiyah, ikhtilaf dan furu'iyah.

Kader PKS ada yang mengharamkan tahlilan, tetapi kader PKS yang NU tetap saja tahlilan. Ada kader PKS yang tidak menggunakan qunut saat shalat subuh., tetapi kader PKS lainnya juga ada yang menggunakan qunut untuk shalat subuh. Dan tidak pernah bertengkar sesama kader dalam masalah hal ini.

Karena itu di PKS, kita akan menemukan beragam pemikiran perbedaan madzhab yang berbeda-beda tetapi mereka dapat disatukan dan dikumpulkan. Tidak ada yang pernah menganggap dirinya lebih benar dari kader PKS lainnya.

Toleransi yang tinggi kader PKS tentang perbedaan Madzhab, khilafiyah, ikhtilaf dan furu'iyah para ulama bisa jadi contoh yang kuat bahwa umat Islam bisa bersatu dalam barisan yang berbeda-beda cara pandangnya.

Karena punya kekuatan toleransi yang tinggi itulah, anggapan kami kenapa banyak sekali stigma negatif terhadap PKS. Karena ada pihak yang takut orang bakal banyak simpati kepada PKS.

Karena itu saya (red, penulis) saat ini merasa prihatin dengan doktrin kepada aktivis PMII yang dulu mereka sama sekali anti doktrin. Dahulu, aktivis PMII menganggap doktrin yang anti doktrin adalah menjadi proses yang baik bagi aktivis mahasiswa. Namun saat ini, terasa sekali doktrin aktivis PMII untuk melakukan justifikasi terhadap PKS sangat tinggi.

Kemungkinan ada ketakutan yang akut jika banyak aktivis PMII yang bakal masuk ke PKS, sebagaimana PMII yang menyatakan dirinya pluralis dan bisa menerima berbagai pemikiran, kecuali mungkin saat ini pemikiran PKS merupakan pikiran yang diharamkan.

Jika Karl Marx, Joseph Stalin ataupun Lenin bisa berkembang melebihi pemikiran KH. Hasyim Asy'ari di aktivis PMII. Tentu saja pemikiran Hasan Al banna ataupun Sayid Qutb adalah dalam benak pemikiran aktivis PMII saat ini, mungkin bakal mereka anggap sebagai pemikiran yang 'haram'.

Saya berharap aktivis PMII semakin terbuka dengan berbagai pemikiran dan tidak gampang di doktrin oleh senior-seniornya yang merasa ketakutan karena teman-temannya banyak yang masuk di PKS. Semoga proses pembelajaran kepada aktivis PMII tak menyurutkan untuk terus mencari kebenaran, bukan sekedar pembenaran untuk justifikasi sepihak.

Mungkin apa yang saya tuliskan bisa dianggap sebagai kesalahan, tetapi apa yang dirasa adalah apa yang kita dapati untuk bisa kita tuliskan.

Salam dari kami Sahabat
Fajar Agustanto,
Mantan Sekum PMII Komisariat Ubhara Surya

20.34 | 1 komentar

Standar Operasi Satgas PKS Sudah Seperti TNI Menurut Para Jenderal

Saat Pembukaan MPKD 2 di Lembah Wera Kab. Sigi, Sulteng


Mungkin saya akan memberi sedikit informasi tentang penilaian gerakan organisasi masyarakat dimata para bintang TNI. Ingat dulu; tentang kehebohan kebijakan aturan pelarangan ormas atau satgas partai memakai seragam yang 'mirip' loreng sebuah angkatan di TNI dan aturan latihan semi militer yang dilakukan organisasi masyarakat. Hampir semua pihak membicarakannya, termasuk para bintang di TNI dan pihak ormas seperti FPI, FKPPI, satgas partai PDIP hingga pemuda pancasila. Dan saya tertarik dengan informasi; pendapat dari para bintang TNI. 
kebersamaan dalam melintasi rintangan
Berikut pertanyaan yang dijawab mereka;

"Diantara ormas dan satgas yang ada di indonesia yang memiliki kekuatan dan soliditas mirip TNI, siapa saja dan apa saja pak jenderal?"
>"Saya lihat kekuatan dan soliditas itu ada di satgas partai PKS; selama 6 bulan kami memantau dan memberi standar penilaian berdasarkan kebutuhan keputusan; ternyata cuma 'mereka' lah yang terbaik dalam pelatihan dan pembangunan kekuatan soliditas organisasi dan gerakan" (sjafrie sjamsoedin-wamenhan)
Perjalanan panjang lewati bukit, lembah, sungai dan hutan
>"Semua ormas memang lahir dengan tujuannya masing masing; seperti FPI ataupun pemuda pancasila, tapi ada fenomena sebuah gerakan tentang sebuah ormas, yang saya nilai mereka memang patut dicontoh secara organisir gerakan dan soliditas kekuatannya; anda tahu partai PKS, semua database saya miliki termasuk penilaian ketika melakukan aksi, dan memang satgas PKS lah yang terbaik"...
(djoko santoso- mantan panglima TNI)

>"Itu, satgas nya PKS, cuma mereka yang punya standar operasi yang sangat rapi mirip dengan organisasi struktural ala TNI, cuma 'mereka' tidak memiliki loreng ala PP ataupun FKPPI, menurut data yang saya miliki satgas PKS sudah seperti pasukan ala vietkong yang dibentuk melawan amerika'.....
(ryamizard ryacudu- mantan KSAD)..... 

Lalu pertanyaan kedua; "Kalau mereka terbaik menurutjenderal; mengapa mereka tidak dicurigai dan dianggap 'berbahaya'?"

Saya ambil satu jawaban dari sosok satu ini: 

>"Karena mereka bukan preman; kebijakan ini (pelarangann seragam mirip TNI -ed) dibuat untuk membatasi premanisme dengan memakai baju besar atau loreng mereka; sementara organisasi satgas PKS hanya kumpulan kader partai yang terbina dan terdidik; itu menurut kacamata saya setelah sempat menerima informasi dilapangan, toh mereka tidak membangun pos pos keamanan ala ormas yang lain, mereka banyak berguna di masyarakat, itu yang membuat kami harus berpikir ulang seandainya menempatkan 'mereka' dalam zona ormas rapor merah"....
(djoko santoso- mantan panglima TNI) 

Peserta dari Poso

by: Bang DW
20.50 | 0 komentar

KIPRAH KEWANITAAN

GALLERY FOTO

Cari Artikel di Sini

Counters


Categories